Jumat, 11 Januari 2019

Oseanograf arus, gelombang dan pasang surut



Arus
Arus di laut merupakan suatu fenomena dinamika air laut yang terjadi setiap hari dan merupakan pencerminan gerakan massa air laut dari suatu tempat ke tempat lain. Fenomena ini berperan sangat penting dalam proses abrasi/akresi pantai, karakteristik ekosistem laut, serta pola penyebaran zat pencemar. Oleh karena itu dalam mempelajari proses abarasi pantai, karakteristik ekosistem laut serta pola penyebaran zat pencemar di laut, pengukuran arah dan kecepatan arus sangat perlu dilakukan. Berbagai cara untuk mengetahui pola arus laut dapat dilakukan, mulai dari pemakaian alat-alat sederhana   sampai   alat-alat   yang  canggih. Dalam tulisan ini penulis mencoba mengemukakan tiga buah alat sederhana yang dapat digunakan untuk mengetahui kecepatan dan arah arus laut. Alat tersebut mudah dibuat dan murah namun mempunyai nilai ketelitian dan ketepatan yang tinggi. Oleh karena itu kita kenal arus pasang surut diurnal, semi-diurnal dan campuran. Kecepatan maksimum arus umumnya tercapai pada waktu menjelang pasang dan menjelang surut, sedangkan arah arus pasang surut ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan atau topografi setempat. Di daerah pantai, arus pasang surut terbesar umumnya sejajar dengan garis pantai.
JENIS-JENIS ARUS LAUT
Arus laut merupakan sistem yang kompleks yang terbentuk akibat bermacam sebab, sehingga data arus menunjukkan kondisi arus sebenarnya yang mencakup semua komponen arus. Oleh sebab itu dalam analisa arus laut, data yang diperoleh diuraikan menjadi sejumlah komponen arus sesuai dengan penyebabnya. Penguraian arus laut tersebut sangat membantu dalam menyederhanakan sistem sirkulasi arus. Beberapa jenis arus yang umum dikenal adalah arus pasang surut, arus akibat gelombang (arus sejajar pantai), arus akibat tiupan angin, dan arus yang disebabkan perbedaan densitas air laut.
Arus pasang surut
Arus pasang surut adalah arus yang terjadi karena perubahan tinggi permukaan air laut akibat pasang surut. Karakteristik arus pasang surut adalah mempunyai periode yang  tetap, mengikuti pola pasang surut. Oleh karena itu kita kenal arus pasang surut diurnal, semi-diurnal dan campuran. Kecepatan maksimum arus umumnya tercapai pada waktu menjelang pasang dan menjelang surut, sedangkan arah arus pasang surut ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan atau topografi setempat. Di daerah pantai, arus pasang surut terbesar umumnya sejajar dengan garis pantai.

Arus gelombang / arus sejajar pantai.
Arus gelombang/arus sejajar pantai adalah arus yang terjadi akibat gelombang yang menghempas ke - daerah pesisir dan membuat sudut miring dengan garis pantai. Arah arus ini sejajar kontur kedalaman dan mempunyai kecepatan tinggi pada periode yang singkat, umumnya hanya beberapa menit dan berlangsung secara periodik sesuai dengan kondisi gelombang. Arus ini penting dalam transpor sedimen karena kecepatannya dan terjadinya pengadukan sedimen dasar oleh gelombang. Pertemuan dua arus gelombang sejajar pantai yang berlawanan pada suatu lokasi menimbulkan arus yang   dikenal   dengan  nama   'rip-current'.

Arus yang diakibatkan oleh angin
Arus yang diakibatkan oleh angin merupakan arus dominan yang terjadi di lapiran permukaan perairan laut lepas. Pengaruh tiupan angin musim misalnya di perairan dari Laut Cina Selatan hingga Laut Ambon, menyebabkan terjadinya pembalikan pola sirkulasi air laut mengikuti pola tiupan angin. Selama musim angin barat, aliran air bergerak menuju timur, dan berubah ke arah barat pada saat musim . timur. Jenis arus ini mempunyai arah dan kecepatan yang berbeda sesuai dengan pertambahan kedalaman air, dan umumnya menjadi sangat lemah pada kedalaman lebih dari 100 meter. Arah arusnya membentuk spiral yang dikenal dengan nama 'Spiral Ekman'. Di perairan lintang utara arah putaran searah dengan putaran jarum jam, sedangkan di perairan lintang selatan arah putarannya berlawanan dengan putaran jarum jam. Arus akibat angin ini juga terjadi di perairan pantai akibat tiupan angin setempat. Dalam kaitannya dengan tumpahan minyak di laut, pola tumpahan tersebut umumnya lebih mendekati pola arus akibat tiupan angin.
JENIS-JENIS ALAT PENGUKUR ARUS
Untuk mendapatkan data arus laut yang menggambarkan kondisi sirkulasi air laut yang sebenarnya merupakan hal yang sangat sulit. Kenyataan ini disebabkan oleh tingginya variabilitas sirkulasi air laut yang meliputi spektrum waktu dari sepersekian detik hingga tahunan. Oleh karena itu, walaupun menggunakan alat-alat ukur canggih sulit untuk mendapatkan hasil pengukuran yang tepat sama dari beberapa alat. Alat ukur yang dapat memberikan akurasi pengukuran misalnya 5%, sudah merupakan suatu alat ukur arus yang berpresisi tinggi. Dalam suatu penelitian, kualitas data pengukuran sebenarnya ditentukan oleh berapa besar ketelitian yang dituntut oleh metode penelitian yang dilakukan. Untuk studi yang berhubungan dengan biota laut, misalnya, data arus dengan ketelitian hingga 20% mungkin masih dianggap memadai. Sebalik-nya, untuk penelitian pengendalian penye-baran zat pencemar diharapkan ketelitian yang lebih tinggi. Dewasa ini dikenal beberapa teknik untuk mengukur arus laut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Alat ukur arus yang dikenal dengan nama "current meter" menggunakan teknik pengukuran secara tidak langsung, misalnya melalui jumlah putaran baling-baling dalam satuan waktu, dengan memanfaatkan karakteristik suara maupun medan elektromagnetik dari air laut. Current meter dapat dibedakan menurut cara penanganan data yang diukur. Ada yang merekam datanya untuk periode tertentu baik di kertas, film, pita magnetik, maupun direkam secara elektronik dengan menggunakan "memory chip". Jenis current meter ini disebut "Self-recording current meter". Dikenal pula current meter yang langsung menunjukkan data pengukuran pada ' tiisplay", alat ini disebut "Direct-reading current meter". Teknik pengukur arus secara langsung adalah dengan mengukur berapa jauh bergeraknya air persatuan waktu. Teknik ini umumnya menggunakan pelampung atau drouge, dan pengukurannya dilakukan secara manual. Prinsip kerja dari teknik-teknik pengukuran tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Secara mekanik dengan baling-baling : Sistem kerja dari jenis current meter ini   berdasarkan   pada   putaran   propeller (baling-baling) yang digerakkan oleh aliran air. Selanjutnya putaran baling-baling dihubungkan langsung keroda-roda gigi/jarum pe-nunjuk angka untuk mencari kecepatannya. Arah arus ditentukan dengan menggunakan kompas penunjuk arah yang terangkai secara mekanik dengan bantuan bola gotri kecil yang akan jatuh ke ruang arah arus melalui kompas penunjuk arah setiap pada putaran baling-baling tertentu. Sebagai con-toh adalah alat ukur arus jenis "Ekman Merz Current Meter". Sedangkan yang tidak berhubungan langsung ke balingbaling yaitu dengan menggunakan sistem coupling magnetik. Biasanya yang menggunakan sistem ini adalah alat ukur arus jenis recording yang hasil rekamannya dapat berupa kertas grafik. Sebagai contoh adalah "ONO Current Meter". Dapat juga berupa rekaman pita magnetik, seperti "Current Meter Aandera". Ada juga yang menggunakan sistem coupling magnetik yang terangkai langsung kedisplay, sebagai contoh adalah "Direct Reading Current Meter CM2". Untuk pengukuran arus kuat maupun arus lemah dapat dibedakan   dari  jenis  kalibrasi   baling-balingnya.
Secara mekanik dengan baling-baling : Sistem kerja dari jenis current meter ini   berdasarkan   pada   putaran   propeller tentang arus hingga 128 kedalaman sekaligus hanya dalam beberapa menit. Dewasa ini maksimum tebal kolom air yang dapat dimonitor mencapai 750 m. Baik alat ukur arus otomatis atau manual mempunyai harga yang mahal, dari beberapa juta hingga diatas 200 juta rupiah (alat ADCP). Jelas harga alat tersebut merupakan kendala utama bagi kebanyakan kegiatan pengukuran arus.
2.      Akustik. Pengukur arus jenis ini mirip dengan sistem kerja echosounder tetapi yang dimanfaatkan adalah perubahan frekwensi suara yang dipantulkan balik ke alat akibat gerakan partikel air. Alat ukur ini dikenal dengan nama "Acoustic Douppler Current Meter Profiler" (ADCP) yang dapat dipasang baik di kapal maupun didaiam air dengan teknik tambatan. Yang diukur dari alat ini adalah kecepatan dan komponen arus arah timur barat, utara selatan dan atas bawah sehingga dari hasil komponen tersebut dapat ditentukan arahnya. Dengan hanya satu alat ukur ADCP ini dapat diperoleh-   informasi tentang arus hingga 128 kedalaman sekaligus hanya dalam beberapa menit. Dewasa ini maksimum tebal kolom air yang dapat dimonitor mencapai 750 m. Baik alat ukur arus otomatis atau manual mempunyai harga yang mahal, dari beberapa juta hingga diatas 200 juta rupiah (alat ADCP). Jelas harga alat tersebut merupakan kendala utama bagi kebanyakan kegiatan pengukuran arus
3.      Pengukuran langsung. Banyak kegiatan penelitian tidak memerlukan data arus yang sangat detail seperti yang dihasilkan oleh alat-alat ukur canggih. Gambaran umumpola sirkulasi suatu tempat dalam penelitian inventarisasi biologi misalnya dapat diperoleh dengan metoda yang mudah dan murah seperti ' current drouge". Penelitian menggunakan current drouge telah sering dilakukan misalnya di Teluk Ambon (HUTAHAEAN and ANDERSON, 1987). Pada kesempatan berikut ini akan disajikan cara membuat "current drouge" untuk mengukur kecepatan dan arah arus secara langsung dan sederhana dengan biaya murah serta mudah dibuat, akan tetapi secara ilmiah hasilnya dapat dipertanggung jawabkan, yang merupakan modifikasi dari jenis cur— rent drouge dari Hydrographic Department (1983),Jepang.


PEMBUATAN CURRENT DROUGE
Alat yang akan dibuat dan dipergunakan kali ini adalah "Current Drouge". Ada beberapa jenis "current drouge" yang dapat dibuat sendiri yaitu : Current Drouge jenis sensor silang, Current Drouge jenis Parasut (ARIEF 1981) dan Current Drouge jenis layar. Prinsip ketiga alat tersebut adalah sama, perbedaannya hanya terletak pada sistem sensornya. luar dari permukaan air laut agar tidak terpengaruh oleh angin. Ikat pelampung pada tiang aluminium dan atur jarak dari kedudukan antara pelampung dan sensor silang. Apabila hendak mengukur arus pada kedalaman 2 m dari permukaan air laut maka jarak antara kedudukan pelampung dan sensor silang (ambil titik tengahnya untuk mengukur jarak) adalah 2 m. Setelah selesai terangkai, ikat dengan tali nilon yang panjangnya minimal 20 m dan sudah diberi tanda setiap ukuran 5 m. Tali tersebut diikatkan pada tiang aluminium tepat diatas pelampung. Cara ini penting diperhatikan gar supaya tali terbentang horizontal dipermukaan air dengan maksud tidak terjadi perbedaan tali terulur dengan jarak sesungguhnya, artinya bila tali terulur 10 m maka jarak sebenarnya 10 m juga.
1. Current Drouge Jenis Sensor Silang
A. Bahan yang diperlukan Current Drouge jenis sensor silang dapat diuraikan   menjadi   7   bagian   yaitu   : 1. Pelampung, sebagai pengatur dan penga- pung tiang penyangga agar bisa berdiri tegak. 2. Tiang Aluminium, untuk merangkai dan menentukan   kedalaman   sensor   silang.
 3. Tali nilon, dipilih yang kecil,ringan namun kuat, dan yang lemas karena apa- bila tali diulur tidak mengalami kesukaran Tali ini berguna untuk mengatur jarak pe- lepas current drouge. 4. Papan dari mika atau triplek, untuk mem buat sensor silang (Gambar 1).    Potong papan mika 2 lembar dengan ukuran 30- cm x 30 cm dan 2 lembar lagi dengan u- kuran 30 cm x 60 cm. 5. Alumunium siku, potong 2 batang dengan ukuran 40 cm, alumunium ini untuk me rangkai sensoj silang. 6. Pemberat, sebagai pengatur beban agarpe- lampung tepat pada posisi di bawah per- mukaanair (Gambar 1). 7. Bendera kecil, berfungsi  sebagai tan da current drouge dan dibuat tidak terlalu besar yang penting dapat terlihat'dengan jelas. Ini perlu diperhatikan sebab a^abila bendera dibuat terlalu besar maka  besar kemungkinan akan dipengaruhi hembusan angin.

B. Cara merangkai Ikat rangkaian sensor silang dari mika atau triplek pada ujung tiang paling bawah, usahakan ujung sensor silang bawah sama dengan ujung bawah tiang perangkai. Tambah pemberat yang berfungsi sebagai pengatur kedudukan tinggi rendahnya pelampung. Pelampung diusahakan tidak ke- dengan bentangan tali nilon current drouge maka akan diketahui kearah mana arus mengalir. Usahakan tempat pelepasan current drouge dibelakang perahu yang   telah   ditambat   dengan jangkar.
C. Cara kerja 1. Ambil  current  drouge  yang ujung tali nilonnya  telah  diikatkan  pada perahu. 2. Ceburkan ke laut dan ulur tali sampai panjang bentangan 5 m. 3. Pegang tanda tali 5 m pertama dan siap- kan stop watch atau jam tangan. 4. Lepaskan tanda tali pertama (5 m) ber- samaan   dengan   menekan   stop   watch start dan selanjutnya pegang tanda tali ke dua(lOm). 5. Ulur tali nilon tersebut agar mudah ter- urai. 6. Hentikan stop watch setelah tanda tali pertama   dan  kedua   terbentang   lurus. 7. Catat berapa detik waktu yang diperlu- kan untuk membentang tali dari tanda tali pertama  sampai  tanda tali ke dua (dalam jarak tempuh 5 m). 8. Untuk mengetahui arah arus digunakan kompas.  Bidikkan  arah kompas sejajar dengan bentangan tali nilon current drouge maka akan diketahui kearah mana arus mengalir. Usahakan tempat pelepasan current drouge dibelakang perahu yang   telah   ditambat   dengan jangkar.
D. Cara perhitungan Rumus  yang  dipergunakan adalah  : V = L : T x m/det  V =  Kecepatan arus  L = Jarak tempuh "current drouge", dalam satuan meter T =  Waktu yang  ditempuh  oleh current drouge dalam satuan detik.
Hasil pengukuran yang diperoleh dari current drouge ini merupakan kecepatan arus rata-rata selama selang waktu pengukuran didaerah ketinggian sensor silang terpasang sepanjang lintasannya.
E. Contoh perhitungan : Misalnya Jarak lintasan current drouge adalah 5 m, dan waktu tempuh adalah 10 detik, maka : Kecepatan arus = 5 :   10 x m/det = 0,5 m/detik.
Current drouge merupakan alat yang sangat sederhana dan praktis serta dapat menggantikan current meter standar. Selain untuk mengukur kecepatan arus, alat "current drouge" ini juga dapat untuk mengetahui lintasan arus (arus Lagrange). Dalam hal ini, sejumlah "current drouge" di hanyutkan dan diikuti selama waktu tertentu, misalnya 24 jam. Posisi "current drouge" tiap-tiap selang waktu tertentu ditentukan dengan menggunakan theodolit maupun GPS (Global Positioning System). Penggunaan theodolit memerlukan minimal dua titik stasiun tetap yang selalu mencatat
sudut pandang kepada "current drouge" tersebut secara bersamaan. Teknik ini menghasilkan lintasan aliran air yang sangat bermanfaat dalam menentukan pola penyebaran zat pencemar di air. Perlu diperhatikan bahwa kalibrasi alat ini dengan alat ukur arus standar merupakan suatu hal yang sangat pent ing. Kesamaan ha-sil antara alat ukur standar dengan "current drouge" yang baik bisa mencapai diatas 90 %, terutama untuk kondisi arus yang cukup kuat misalnya diatas kecepatan 30 cm/detik. Disamping itu, untuk meningkat-kan akurasi data, pengukuran waktu dan ja-rak gerak "current drouge" harus dimulai saat "current drouge" tersebut cukup jauh dari perahu, misalnya 5 meter. Pengaruh hempasan gelombang terutama di daerah pantai akan mengurangi ketelitian dari alat ini. Walaupun demikian hal tersebut tidak perlu dicemaskan karena sebagian besar alat ukur buatan pabrikpun mengalami masalah yang sama. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan pengamatan dengan lintasan yang lebih panjang, sehingga pengaruh gelombang menjadi minimum akibat proses perata-rataan.
2. Current Drouge Jenis Sensor Parasut.
A. Bahan yang diperlukan Bahan yang diperlukan "current drouge" jenis sensor parasit ini sama rangkaiannya dengan rangkaian "current drouge" jenis sensor silang, baik ukuran maupun bahannya. Perbedaan dengan yang pertama hanya pada sensornya, di sini dipakai parasit sebagai sensor (Gambar 2.).
B. Cara merangkai Tahapan merangkai jenis sensor ini sama dengan tahapan merangkai jenis sensor silang. Disajikan pada Gambar 3.
C. Cara kerja Cara kerja "current drouge" jenis sensor parasit ini pada prinsipnya sama dengan cara kerja "current drouge" jenis sensor silang.
D. Cara perhitungan Cara perhitungan alat ini sama halnya deng&n "current drouge" jenis sensor silang.
3. Current Drouge Jenis Sensor Layar
A. Bahan yang diperlukan : Bahan yang diperlukan untuk "current drouge" jenis Layar ini adalah sama dengan "current drouge sensor silang dan parasit. Perbedaannya terletak pada jenis sensornya, yaitu menggunakan layar yang dapat dibuat dari kain biasa, kain parasit maupun lembaran plastik. Ukuran dari layar ini disajikan pada Gambar 3.
B. Cara merangkai Tak ubahnya sama cara merangkainya dengan jenis yang dua diatas.
C. Cara kerja Cara kerja jenis alat ini sama dengan cara kerja kedua jenis alat di atas.
D. Cara perhitungan Cara perhitungannya pun sama dengan cara perhitungan kedua alat di atas

























 





































pemberat kecil

Gambar 2. Current Drouge Jenis Sensor Parasit































Gambar 3. Current Drouge Jenis Sensor Layar



Tidak ada komentar:

Posting Komentar