INSTRUMENTASI
KELAUTAN
ALAT/INSTRUMEN
KELAUTAN
![]() |
NAMA : MUHAMMAD JOHARI AL MUGHNI
NIM : G1F114035
PROGRAM
STUDI ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS
PERIKANAN DAN KELAUTAN
BANJARBARU
2019
Instrumentasi Kelautan adalah prinsip, teknik dan
metode kalibrasi berbagai instrumen yang digunakan dalam survei penelitian dan
kegiatan kelautan. Instrumentasi Kelautan
merupakan bidang keilmuan berhubungan dengan
alat-alat dan piranti (device) yang dipakai untuk pengukuran dan pengendalian
dalam suatu sistem yang lebih besar dan lebih kompleks dalam dunia kelautan. Instrumentasi Kelautan
sebagai alat pengukuran meliputi instrumentasi
Oseanografi, Navigasi, Akustik, Optik dan Satelit.
A.
INSTRUMENTASI
OSEANOGRAFI
1.
Winch

Winch adalah sebuah piranti atau alat yang banyak
di gunakan untuk menarik beban dengan posisi horizontal.. Winch merupakan mesin
bantu yang digunakan untuk menarik tali kerut atau tali kolor penggerakyang
digunakan berupa tenaga hidrolik. Tenaga ini paling umum digunakan dan memiliki
daya serta bentuk yang besar.
Penempatan winch di kapal ada yang di bagian belakang, di bagian depan,
adapula ditempatkan di kedua sisi samping kamar kemudi. Pada umumnya dipasang
pada kapal-kapal ikan pada skala industri. Trawl winch pada stern trawl
terpelihara dari pengaruh angin dan gelombang, dengan demikian dalam cuaca
buruk sekalipun operasi masih dapat dilakukan dengan mudah. Merk - merk winch
pun mulai bertebaran di pasaran indonesia di antaranya Winch Warn, salah satu
merk yang saat ini menjadi ikon tersendiri di kalangan offroader indonesia.
Seiring berjalannya waktu winch merk lainpun sudah bisa menjadi second choise
sebagai pengganti warn.

CTD (Conductivity Temperature Depth) adalah instrumen yang digunakan
untuk mengukur karakteristik air seperti suhu, salinitas, tekanan, kedalaman,
dan densitas.. Secara umum, sistem CTD terdiri dari unit masukan data, sistem
pengolahan, dan unit luaran.
Unit masukan data terdiri dari sensor CTD, rosette, botol sampel, kabel
koneksi dll. Sensor berfungsi untuk mengukur parameter karakteristik fisik air
laut yang terdiri dari sensor tekanan, temperatur, dan konduktivitas. Botol
sampel berfungsi sebagai wadah sampel air sedangkan rosset berfungsi untuk
mengatur penutupan botol. Kabel koneksi berfungsi sebagai penompang, dan juga
berfungsi sebagai pengantar sinyal. Telekomando akan memberikan sinyal kepada
rosset untuk menutup botol secara berurutan, setelah mengambil sampel air laut.
Unit pengolah terdiri dari sebuah unit pengontrol CTDS (CTD Sensor) dan
komputer yang dilengkapi perangkat lunak.
Unit pengontrol berfungsi sebagai pengolah sinyal CTD, penampil hasil
pengukuran serta pengubah sinyal analog ke digital. CTD mengontrol setiap
kegiatan akusisi dan pengambilan sampel serta kalibrasi. Setiap penekanan
tombol fungsi sesuai pada menu, maka printer akan mencetak posisi, kedalaman,
salinitas, konduktifitas dan temperatur sehingga kronologis kegiatan
pengoprasian CTD dapat terekam.
Sensor adalah sebuah piranti yang mengubah fenomena fisika menjadi
sinyal elektrik. CTD memiliki tiga sensor utama, yakni sensor tekanan, sensor
temperatur, dan sensor untuk mengetahui daya hantar listrik air laut
(konduktivitas).
Pada Prinsipnya teknik pengukuran pada CTD ini adalah untuk mengarahkan
sinyal dan mendapatkan sinyal dari sensor yang mendeteksi suatu besaran,
kemudian mendapatkan data dari metode multiplexer dan pengkodean (decode), kemudian memecah data dengan
metode enkoder untuk di transfer ke serial data stream dengan dikirimkan ke
control unit via cabel. CTD diturunkan ke kolom perairan dengan menggunakan
winch disertai seperangkat kabel elektrik secara perlahan hingga ke lapisan
dekat dasar kemudian ditarik kembali ke permukaan. CTD memiliki tiga sensor
utama, yakni sensor tekanan, sensor temperatur, dan sensor untuk mengetahui
daya hantar listrik air laut (konduktivitas). Pengukuran tekanan pada CTD
menggunakan strain gauge pressure monitor atau quartz crystal.
3. Tide Gauge

Tide Gauge
adalah alat yang digunakan untuk mengukur muka air
laut. Sebagian besar tide gauge adalah alat pengukur berupa
pelampung diletakkan pada titik yang terletak di pelabuhan, teluk, atau laguna.
Dengan demikian pengukuran dari tide
gauge tidak mewakili kondisi di sepanjang pantai terbuka tapi mewakili
daerah yang dipasangi tide gauge . Tide Gauge yang digunakan oleh indonesia
bukan tipe pelampung tapi menempel di pelabuhan.
Perpindahan dasar laut akibat gempa yang memiliki
kekuatan besar dapat menghasilkan tsunami yang menyebar di lautan. Persebaran
dari tsunami ini dapat dicatat oleh tide-gauge yang berada di sekitar zona
gempa penghasil tsunami. Tide Gauge adalah alat yang digunakan untuk
mengukur muka air laut. Sebagian besar
tide gauge adalah alat pengukur berupa pelampung diletakkan pada titik yang terletak di pelabuhan, teluk, atau
laguna. Dengan demikian pengukuran dari tide
gauge tidak mewakili kondisi di
sepanjang pantai terbu (Merrifield et. al, 2005). Tide Gauge yang digunakan oleh indonesia bukan tipe pelampung tapi
menempel di pelabuhan.

Pressure Gauge adalah alat yang digunakan untuk mengukur tekanan fluida
(gas atau liquid) dalam tabung tertutup. Pada sistem refrigerasi, prinsip pressure
gauge yang sering digunakan biasanya bertipe manometer dan bourdon tube
5. Buoy

Buoy adalah penanda yang
diletakkan di laut agar kapal tidak merapat
dikarenakan kedalaman laut yang terlalu dangkal. Buoy pada umumnya berwarna terang agar mudah dikenali dari jarak
jauh.
Mooring buoy dilengkapi dengan beban yang lebih berat untuk diletakkan di dasar laut yang dinamakansinker. Sinker dihubungkan dengan buoymenggunakan
rantai dan shackle. Panjang rantai
yang terpasang adalah dua kali kedalaman laut di daerah mooring buoy dipasang.
Hal ini bertujuan agar buoy tetap
berada di radius yang ditentukan dan apabila pasang surut air laut terjadi, mooring buoy tetap berada di permukaan air. Pada bagian atas buoy terdapat bagian yang menjorok ke atas yang ditujukan sebagai
tempat kapal menambatkan tali. Dengan demikian, ada dua kelebihan menggunakan mooring buoy. Pertama, kapal tidak
6. Mooring

Fungsi mooring pada prinsipnya
adalah untuk “mengamankan” posisi kapal agar tetap pada tempatnya. Secara umum,
mooring system yang digunakan untuk FSO/FPSO (Floating Production Storage and
Offloading) adalah Spread Mooring, Turret Mooring, Tower Mooring, dan Buoy
Mooring.
Ø Spread Mooring
Boleh dibilang spread mooring
adalah cara yang paling sederhana sebagai sarana tambat FSO/FPSO, karena pada
system ini tidak memungkinkan bagi kapal untuk bergerak/berputar guna mencapai
posisi dimana efek-efek lingkungan semisal angin, arus dan gelombang relative
kecil. Namun hal ini akan mengakibatkan beban lingkungan terhadap kapal menjadi
semakin besar, yang mana akan mengakibatkan bertambahnya jumlah mooring lines
dan atau line tension-nya.
Peralatan yang digunakan biasanya
merupakan peralatan yang pada umumnya sudah tersedia di kapal. Pada system ini
digunakan satu set anchor legs dan
mooring lines yang biasanya terletak pada posisi bow dan stern kapal. Karena
peralatan yang digunakan relative sederhana, maka tidak perlu dry docking untuk
melakukan modifikasi terhadap
mooring systemnya. Spread mooring dapat diterapkan pada setiap type kapal,
namun dengan tetap memperhatikan fasilitas produksi di atas kapal. Pada FPSO
Belanak Natuna yang di atasnya terdapat fasilitas produksi crude oil dan LPG,
maka posisi fixed heading menjadi kebutuhan yang sangat penting dan oleh karenanya
digunakan system spread mooring, karena pergerakan/perputaran dari kapal akan
sangat berpengaruh pada proses produksi LPG. Pada system ini, peralatan
offloading biasanya terletak di bow atau stern kapal, atau dengan menggunakan
buoy yang didedikasikan khusus untuk sarana transfer cargo.
Ø
Turret Mooring
Pada system ini kapal dihubungkan
dengan turret, yang mana dengan adanya bearing memungkinkan kapal untuk dapat
berputar. Dibandingkan dengan spread mooring, pada system ini riser dan
umbilical yang diakomodasi dapat lebih banyak lagi. Turret mooring dapat berupa
external turret atau internal turret :
Ø External Turret
External Turret dapat diletakkan
pada posisi bow atau stern kapal, di luar lambung kapal, memungkinkan kapal
untuk dapat berputar 360 derajat dan beroperasi pada kondisi cuaca normal
maupun extreme. Chain leg “ditanam” di dasar laut dengan anchor atau piles.
Biaya pembuatannya lebih murah dibandingkan dengan internal turret dan
modifikasi yang dilakukan di kapal tidak terlalu banyak. Selain posisi turret,
perbedaan lain dibandingkan dengan internal turret adalah posisi chain
table-nya. Pada external turret, chain table terletak di atas water level,
sedangkan pada internal turret, chain table terendam di bawah garis air. Pada
umumnya system ini digunakan di perairan yang tidak terlalu dalam dan pada
lapangan yang relative kecil.Contoh aplikasi di Indonesia : FPSO Anoa Natuna
Ø Internal Turret
Keunggulan system ini adalah
dapat terpasang secara permanen maupun tidak (dis-connectable), dapat diaplikasikan
pada lapangan dengan kondisi lingkungan yang moderat sampai ekstrim, dan sesuai
untuk deepwater. System ini dapat mengakomodasi riser hingga 100 unit dan
kedalaman laut hingga 10,000 feet. Rasanya belum ada contoh aplikasi di
Indonesia.
Ø Tower Mooring
Pada system ini FSO/FPSO dihubungkan
ke tower dengan suatu permanent wishbone atau permanen/temporary hawser. Sesuai untuk laut dangkal hingga sedang dengan
arus yang cukup kuat.Keuntungannya adalah :
Transfer fluida yang sederhana, dengan menggunakan
jumper hoses dari tower ke kapal, Akses langsung dari kapal ke tower,Modifikasi
yang tidak terlalu banyak pada kapal, Semua mechanical equipment terletak di
atas sea level. Contoh aplikasi di
Indonesia : FSO Ladinda.
Pada system ini sebuah buoy
digunakan sebagai mooring point kapal dan untuk offloading fluida. Tujuan
utamanya adalah untuk transfer fluida dari daratan atau fasilitas offshore
lainnya ke kapal yang sedang ditambatkan. Komponen-komponennya antara lain:
Buoy Body, sebagai penyedia stabilitas dan buoyancy, Komponen Mooring dan
Anchoring, menghubungkan buoy dengan seabed dan hawser menghubungkan buoy
dengan kapal.
7. Current Meter

Current meter berfungsi sebagai
Pengukuran arus, baik dengan metode langlarian maupun metode eularian.Sebuah currentmeter
yang ideal harus memiliki respon yang cepat dan konsisten dengan setiap
perubahan yang terjadi pada kecepatan air, dan harus secara akurat dan
terpercaya sesuai dengan komponen velositas.
Secara umum current meter yang
biasa dipergunakan memiliki dua tipe : dengan “verctical axis meter” dan “axis
meter horizontal”. Dalam kedua perbedaan tersebut rotasi dan rotor dari
propeller dipergunakan untuk menentukan kecepatan aruslaut sesuai dengan
pengaturan pada current meter.
8. Spektrofotometer
.
Tekanan akan dicatat dalam desibar kemudian tekanan dikonversi menjadi
kedalaman dalam meter. Sensor temperatur yang terdapat pada CTD menggunakan
thermistor, termometer platinum atau kombinasi keduanya. Sel induktif yang
terdapat dalam CTD digunakan sebagai sensor salinitas. Pengukuran data tercatat
dalam bentuk data digital. Data tersebut tersimpan dalam CTD dan ditransfer ke
komputer setelah CTD diangkat dari perairan atau transfer data dapat dilakukan
secara kontinu selama perangkat perantara (interface) dari CTD ke komputer
tersambung.
9. DO Meter
Cara penentuan oksigen terlarut
dengan metoda elektrokimia adalah cara langsung untuk menentukan oksigen
terlarut dengan alat DO meter. Prinsip kerjanya adalah menggunakan probe
oksigen yang terdiri dari katoda dan anoda yang direndam dalarn larutan
elektrolit. Pada alat DO meter, probe ini biasanya menggunakan katoda perak (
Ag ) dan anoda timbal ( Pb ). Secara keseluruhan, elektroda ini dilapisi dengan
membran plastik yang bersifat semi permeable terhadap oksigen.
10. Hand Refraktometer

Hand Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk
mengukur kadar atau konsentrasi bahan terlarut misalnya : Gula, Garam, Protein
dsb. Prinsip kerja dari refraktometer sesuai dengan namanya adalah dengan
memanfaatkan refraksi cahaya.
11. pH Meter

pHmeter adalah suatu alat yang digunakan untuk
mengukur tingkat keasaman dan kebasaan. Keasaman dalam larutan itu dinyatakan
sebagai kadar ion hidrogen disingkat dengan [H+], atau sebagai pH yang artinya –log
[H+]. Dengan kata lain pH
merupakan ukuran kekuatan suatu asam. Cara kerja
alat ini adalah dengan cara mencelupkan kedalam air yang akan diukur (kira-kira
kedalaman 5cm) dan secara otomatis alat bekerja mengukur. Pada saat pertama
dicelupkan, angka yang ditunjukkan oleh display masih berubah-ubah, tunggulah
kira-kira 2 sampai 3 menit sampai angka digital stabil.
12. Tide Staff

Alat ini berupa papan yang telah
diberi skala dalam meter atau centi meter. Biasanya digunakan pada pengukuran pasangsurut
di lapangan. Tide Staff (papan Pasut) merupakan
alat pengukur pasut paling sederhana yang umumnya digunakan untuk mengamati
ketinggian muka laut atau tinggi gelombang air laut. Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu, alumunium atau bahan
lain yang di cat anti karat.
B.
INSTRUMEN NAVIGASI 1. Radio GMDSS

Digital Selective Calling (DSC) pada MF, HF dan VHF
radio maritim sebagai bagian dari sistem GMDSS.DSC terutama ditujukan untuk
memulai kapal ke kapal, kapal ke pantai dan pantai ke kapal telepon radio dan
MF / HF radiotelex panggilan.Panggilan DSC juga dapat dibuat untuk stasiun
individu, kelompok stasiun, atau semua stasiun dalam jangkauan seseorang.Setiap
kapal DSC dilengkapi, stasiun pantai dan kelompok ditugaskan unik 9-digit
Maritime Mobile Service Identity.
Alert distress DSC, yang terdiri dari sebuah pesan
marabahaya terformat, digunakan untuk memulai komunikasi darurat dengan kapal
dan pusat koordinasi penyelamatan. DSC dimaksudkan untuk menghilangkan
kebutuhan bagi orang-orang di jembatan kapal atau di pantai untuk terus menjaga
penerima radio pada saluran radio suara, termasuk saluran VHF 16 (156,8 MHz)
dan 2182 kHz sekarang digunakan untuk marabahaya, keselamatan dan panggilan.
Sebuah arloji mendengarkan kapal kapal GMDSS dilengkapi pada 2182 kHz.
2. Sextans
Sextans adalah konstelasi
khatulistiwa minor yang diperkenalkan pada abad ke-17 oleh Johannes
Hevelius.Namanya adalah Latin untuk sekstan astronomi,
instrumen yang Hevelius sering melakukan penggunaan dalam
pengamatannya.Dalam dunia pelayaran digunakan untuk menentukan posisi kapal
artikel baru menghitung ketingaian benda angkasa dan azimutnya.
3. LORAN (Long Range Navigation)

Loran (Long Range Navigation)adalah sistem navigasi
radio terestrial menggunakan frekuensi rendah pemancar radio yang menggunakan
beberapa pemancar ( multilateration) untuk menentukan lokasi dan atau kecepatan
penerima. Versi saat ini dari LORAN umum digunakan adalah LORAN - C , yang
beroperasi di bagian frekuensi rendah dari spektrum EM 90-110 kHz.Terutama
untuk melayani sebagai cadangan untuk GPS dan metode navigasi GNSS systemsyang
disediakan oleh LORAN didasarkan pada prinsip perbedaan waktu antara penerimaan
sinyal dari sepasang pemancar radio.[ 3 ] A diberikan konstan perbedaan waktu
antara sinyal dari dua stasiun dapat diwakili oleh garis hiperbolik posisi (
LOP ) . Jika posisi dua stasiun disinkronkan diketahui , maka posisi penerima
dapat ditentukan sebagai suatu tempat pada kurva hiperbolik tertentu di mana
perbedaan waktu antara sinyal yang diterima adalah konstan .
Dalam kondisi ideal, hal ini secara proporsional
setara dengan perbedaan jarak dari receiver ke masing-masing dari dua stasiun.
Dengan sendirinya, dengan hanya dua stasiun, posisi
2 dimensi penerima tidak dapat diperbaiki. Sebuah aplikasi kedua prinsip yang sama
harus digunakan, didasarkan pada perbedaan waktu dari sepasang yang berbeda
dari stasiun. Dengan menentukan persimpangan dua kurva hiperbolik
diidentifikasi oleh penerapan metode ini, memperbaiki geografis dapat
ditentukan.
4. Navtex

Navtexa dalah sistem otomatis
internasional untuk langsung mendistribusikan peringatan maritim navigasi,
ramalan cuaca dan peringatan, pencarian dan penyelamatan pemberitahuan dan
informasi yang serupa dengan kapal A, rendah-biaya kecil dan pencetakan radio
penerima dipasang di jembatan, atau tempat dari mana kapal berlayar, dan
memeriksa setiap pesan yang masuk untuk melihat apakah telah diterima selama
transmisi sebelumnya, atau jika itu adalah kategori yang tidak tertarik untuk
menguasai kapal. Frekuensi transmisi pesan ini adalah 518 kHz dalam bahasa
Inggris, sementara 490 kHz digunakan untuk menyiarkan dalam bahasa lokal.
Pesan dikodekan dengan kode
sundulan diidentifikasi menggunakan alfabet untuk mewakili stasiun penyiaran,
jenis pesan, dan diikuti oleh dua angka yang menunjukkan nomor urut pesan.
5. Search and Rescue Transponder (SART)

Perangkat yang digunakan untuk menemukan
kelangsungan hidup kerajinan atau pembuluh tertekan dengan menciptakan serangkaian
titik pada layar radar 3
cm kapal penyelamatkan itu.Jangkauan deteksi antara perangkat ini dan
kapal, tergantung pada ketinggian radar tiang kapal dan ketinggian SART,
biasanya sekitar 15 km (8 mil laut).Perhatikan bahwa radar laut tidak dapat
mendeteksi SART bahkan dalam jarak ini, jika pengaturan radar tidak
dioptimalkan untuk deteksi SART.Setelah terdeteksi oleh radar, SART yang akan
menghasilkan indikasi visual dan aural.
C. INSTRUMEN AKUSTIK
1. Fish Finder

Fish Finder bekerja berdasarkan
pemantulan gelombang suara yang dipancarkan dari permukaan perairan sampai
dasar lautan. Ketika bunyi yang dipancarkan kedasar lautan tersebut membentur
suatu benda dan kembali ke penerima sonar, maka jaraknya yang ditempuh oleh bunyi
tersebut dapat diukur, maka dapat diketahui letak benda tersebut dibawah
permukaan laut.
2. Sonar
Sonar (Sound Navigation and Ranging) merupakan suatu peralatan atau
piranti yang digunakan dalam komunikasi di bawah laut, sonar sendiri bekerja
untuk mencari atau mendeteksi suatu benda yang ada di bawah laut dengan cara
mengirim gelombang suara yang nantinya gelombang suara tersebut dipantulkan
kembali oleh benda yang akan dideteksi. Sonar biasa dimanfaatkan dalam mengukur
kedalaman laut (Bathymetry), pengidentifikasian jenis-jenis lapisan sedimen
dasar laut (Subbottom Profilers), pemetaan dasar laut (Sea Bed Mapping),
mendeteksi kapal selam dan ranjau, analisa dampak lingkungan didasar laut,
menangkap ikan serta berbagai kegiatan komunikasi di bawah laut. Sebuah sonar
terdiri dari sebuah pemancar, transducer, penerima/receiver, dan layar
monitor.Sonar sendiri pada awalnya diinspirasi dari lonceng bawah air yang
digunakan untuk mengukur kecepatan suara dalam air, kemudian berkembang dan
dimanfaatkan dalam mendeteksi gunung es yang ada dalam laut ketika kapal laut
melintas.Seiring dengan perkembangan waktu, sonar dimanfaatkan dalam perang
dunia I untuk mendeteksi kapal selam.Semenjak itu sonar benar-benar
dikembangkan dan dimanfaatkan dalam dunia militer dan perang.

Echosounder merupakan salah satu
alat yang penting untuk mengetahui kedalaman laut dan dapat juga sebagai
pengukur jarak dengan ultrasonic.Kedalaman dasar laut dapat dihitung dari
perbedaan waktu antara pengiriman dan penerimaan pulsa suara. Echosounder
memiliki beberapa pertimbangan sistem, diantaranya Side-Scan Sonar, Sub-Bottom
Profling, Single-Beam Echosounder, dan Multi-Beam Echosounder.
Side-Scan Sonar pada saat ini,
pengukuran kedalaman dasar laut (bathymetry) dapat dilaksanakan bersama-sama
dengan pemetaan dasar laut (Sea Bed Mapping) dan pengidentifikasian jenis-jenis
lapisan sedimen dibawah dasar laut (subbottom profilers).
Sistem Side-Scan Sonar
mengirimkan pulsa akustik pada suatu sisi dari receiver dan merekam amplitude
energi balikan dari pulsa yang dipancarkan oleh sensor.Tiap pancaran pulsa,
satu lajur kecil (sekitar 100 sampai 200 m ke tiap sisi) dari dasar laut
dipetakan.Tiap pergerakan kapal, lajur ke lajur dipetakan.Pada dasar laut yang
datar sempurna semua energi dipantulkan dari sensor sonar dan tidak ada sinyal
yang terekam.Dalam faktanya, dasar laut tidak rata sempurna.Ketidakteraturan
seperti bebatuan dan riak-riak air karena pantulan (backscatter) dari energi
akustik dan sistem dapat menyediakan informasi secara kasar keadaan dasar laut.
Sub-Bottom Proflingmerupakan
suatu sistem untuk mengidentifikasi dan mengukur variasi dari lapisan-lapisan
sedimen yang ada di bawah permukaan air. Sistem akustik yang digunakan dalam
penentuan sub-bottom profiling hampir sama dengan alat pada echosounder.
Sumber suara memancarkan sinyal
secara vertikal ke bawah menelusuri air dan receiver memonitor sinyal balikan
yang telah dipantulkan dasar laut. Batasan antara dua lapisan memiliki
perbedaan ciri akustik (acoustic impedance = rintangan akustik). Sistem
menggunakan energi pantulan untuk mengumpulkan informasi lapisan-lapisan
sedimen di bawah dasar permukaan air (tampilan muka sedimen bawah air).
Rintangan akustik berhubungan dengan tingkat kekentalan atau berat jenis
(densitas) dari kandungan material dan tingkat kecepatan suara menelusuri
material.Ketika terjadi perubahan rintangan akustik, seperti tampilan muka
sedimen bawah air, bagian suara yang diteruskan kemudian dipantulkan kembali.
Bagaimanapun, beberapa energi suara menembus menelusuri sampai batas dan
kedalam lapisan sedimen.Energi ini dipantulkan ketika menembus batas antara
lapisan
sedimen yang lebih dalam yang
memiliki rintangan akustik yang berbeda-beda.Sistem ini menggunakan energi yang
dipantulkan oleh lapisan-lapisan untuk membentuk penampang dari bagian
sub-bottom lapisan-lapisan sedimen.
Beberapa parameter-parameter dari
sonar (tenaga keluaran, frekuensi dari sinyal, dan panjang gelombang pulsa yang
dipancarkan) mempengaruhi performa dari alat yang digunakan.
Single-Beam Echosunder merupakan
alat ukur kedalaman air yang menggunakan pancaran tunggal sebagai pengirim dan
penerima sinyal gelombang suara. Sistem batimetri dengan menggunakan single
beam secara umum mempunyai susunan : transciever (tranducer/reciever) yang terpasang pada lambung kapal atau sisi
bantalan pada kapal. Sistem ini mengukur kedalaman air secara langsung dari
kapal penyelidikan. Transciever yang terpasang pada lambung kapal mengirimkan
pulsa akustik dengan frekuensi tinggi yang terkandung dalam beam (gelombang
suara) secara langsung menyusuri bawah kolom air. Energi akustik memantulkan
sampai dasar laut dari kapal dan diterima kembali oleh tranciever.Transciever
terdiri dari sebuah transmitter yang mempunyai fungsi sebagai pengontrol
panjang gelombang pulsa yang dipancarkan dan menyediakan tenaga elektris untuk
besar frekuensi yang diberikan.Transmitter ini menerima secara berulang-ulang
dalam kecepatan yang tinggi, sampai pada orde kecepatan milisekon.Perekaman kedalaman
air secara berkesinambungan dari bawah kapal menghasilkan ukuran kedalaman
beresolusi tinggi sepanjang lajur yang disurvei. Informasi tambahan seperti
heave (gerakan naik-turunnya kapal yang disebabkan oleh gaya pengaruh air
laut), pitch (gerakan kapal ke arah depan (mengangguk) berpusat di titik tengah
kapal), dan roll (gerakan kapal ke arah sisi-sisinya (lambung kapal) atau pada
sumbu memanjang) dari sebuah kapal dapat diukur oleh sebuah alat dengan nama
Motion Reference Unit (MRU), yang juga digunakan untuk koreksi posisi pengukuran
kedalaman selam proses berlangsung. Single-Beam echosounder relatif mudah untuk
digunakan, tetapi alat ini hanya menyediakan informasi kedalaman sepanjang
garis track yang dilalui oleh kapal. Jadi, ada feature yang tidak terekam
antara lajur per lajur sebagai garis tracking perekaman, yang mana ada ruang
sekitar 10 sampai 100 m yang tidak terlihat oleh sistem ini.
Multi-Beam Echosunder merupakan
alat untuk menentukan kedalaman air dengan
cakupan area dasar laut yang luas.Prinsip operasi alat ini secara umum adalah
berdasar pada pancaran pulsa yang dipancarkan secara langsung ke arah dasar
laut dan setalah itu energi akustik dipantulkan kembali dari dasar laut (sea
bed), beberapa pancaran suara (beam) secara elektronis terbentuk menggunakan
teknik pemrosesan sinyal sehingga diketahui sudut beam.Dua arah waktu
penjalaran antara pengiriman dan penerimaan dihitung dengan algoritma
pendeteksian terhadap dasar laut tersebut.Dengan mengaplikasikan penjejakan
sinar, sistem ini dapat menentukan kedalaman dan jarak transveral terhadap
pusat area liputan. Multi-Beam Echosounder dapat menghasilkan data batimetri
dengan resolusi tinggi ( 0,1 m akurasi vertikal dan kurang dari 1 m akurasi
horisontalnya).
1. Theodolite

Theodolite adalah salah satu alat
ukur tanah yang digunakan untuk menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar
dan sudut tegak.Pada dasarnya alat ini berupa sebuah teleskop yang ditempatkan
pada suatu dasar berbentuk membulat (piringan) yang dapat diputar-putar
mengelilingi sumbu vertikal, sehingga memungkinkan sudut horisontal untuk
dibaca.Teleskop tersebut juga dipasang pada piringan kedua dan dapat
diputar-putar mengelilingi sumbu horisontal, sehingga memungkinkan sudut
vertikal untuk dibaca.
Theodolite merupakan alat yang
paling canggih di antara peralatan yang digunakan dalam survei. Pada dasarnya
alat ini berupa sebuah teleskop yang ditempatkan pada suatu dasar berbentuk
membulat (piringan) yang dapat diputar-putar mengelilingi sumbu vertikal,
sehingga memungkinkan sudut horisontal untuk dibaca. Teleskoptersebut juga
dipasang pada piringan kedua dan dapat diputar-putar mengelilingi
sumbuhorisontal, sehingga memungkinkan sudut vertikal untuk dibaca. Kedua sudut
tersebutdapat dibaca dengan tingkat ketelitian sangat tinggi.
2. Waterpass

Waterpass adalah alat yang
digunakan untuk mengukur atau menentukan sebuah benda atau garis dalam posisi
rata baik pengukuran secara vertikal maupun horizontal. Ada banyak jenis alat
waterpass yang digunakan dalam pertukangan, tapi jenis yang paling sering
dipergunakan adalah waterpass panjang 120 cm yang terbuat dari bahan kayu dengan tepi kuningan,
dimana alat ini terdapat dua buah alat pengecek
kedataran baik untuk vertikal maupun horizontal yang terbuat dari kaca dimana didalamnya terdapat gelembung cairan, dan pada posisi pinggir
alat terdapat garisan pembagi yang dapat dipergunakan sebagai alat ukur
panjang.
Saat ini waterpass banyak
dijumpai dalam berbagai ukuran dan bahan. Ukuran yang umum dapat dijumpai
adalah waterpass dengan panjang 0,5 m, 1 m, 2m, dan 3 m. Umumnya berbentuk
persegi panjang dengan lebar 5-8 cm dan tebal 3 cm. Kedua sisi mempunyai
permukaan rata sebagai bidang yang ditempatkan ke permukaan yang akan diperiksa
kedataran atau ketegakannya. Ditengah bagian adalah terdapat berbentuk lobang
dan ditengahnya sebagai penempatan kaca gelembung sebagai alat pemeriksaan
kedataran, dan pada salah satu ujung terdapat lobang dan ditengahnya sebagai
penempatan kaca gelembung sebagai alat pemeriksaan ketegakan vertikal.Bahan
waterpass yang umum terdapat adalah dari bahan kayu dan aluminium. Umumnya
orang lebih menyukai waterpass yang terbuat dari bahan aluminium karena lebih tahan lama dan lebih ringan untuk digunakan.
Pemakaian waterpass dilakukan
dengan sederhana, yaitu menempatkan permukaan alat ke bidang permukaan yang di
cek. Untuk mengecek kedataran maka dapat diperhatikan gelembung cairan pada
alat pengukur yang ada bagian tengah alat waterpass. Sedangkan untuk mencek
ketegakan maka dapat dilihat gelembung
pada bagian ujung waterpass. Untuk memastikan
apakah bidang benar rata maka gelembung harus benar benar berada ditengah alat
yang ada.
E. INSTRUMEN SATELIT
1.
Satelit SPOT (systeme pour I’observation de la terre)

Merupakan satelit milik perancis
yang mengusung pengindera HRV (SPOT1,2,3,4) dan HRG (SPOT5). Satelit ini
mengorbit pada ketinggian 830 km dengan sudut inklinasi 80 derajat.Satelit SPOT
memiliki keunggulan pada sistem sensornya yang membawa dua sensor identik yang
disebut HRVIR (haute resolution visibel infrared).Masing-masing sensor dapat
diatur sumbu pengamatanya kekiri dan kekanan memotong arah lintasan satelit
merekam sampai 7 bidang liputan. Fungsi dari satelit SPOT adalah untuk akurasi
monitoring bumi secara global.

Citra Landsat TM merupakan salah
satu jenis citra satelit penginderaan jauh yang dihasilkan dari sistem
penginderaan jauh pasif.Landsat memiliki 7 saluran dimana tiap saluran
menggunakan panjang gelombang tertentu. Satelit landsat merupakan satelit
dengan jenis orbit sunsynkron (mengorbit bumi dengan hampir melewati kutub, memotong
arah rotasi bumi dengan sudut inklinasi 98,2 derajat dan ketinggian orbitnya
705 km dari permukaan bumi. Luas liputan per scene 185 km x 185 km. Landsat
mempunyai kemampuan untuk meliput daerah yang sama pada permukaan bumi pada
setiap 16 hari, pada ketinggian orbit 705 km. Fungsi dari satelit landsat
adalah untuk pemetaan penutupan lahan, pemetaan penggunaan lahan, pemetaan
tanah, pemetaan geologi, dan pemetaan suhu permukaan laut.
3. Satelit ASTER (Advanced Spaceborne Emission and
Reflecton Radiometer)

Satelit yang dikembangkan negara
Jepang dimana sensor yang dibawa terdiri dari VNIR, SWIR, dan TIR. Satelit ini
memiliki orbit sunshyncronus yaitu orbit satelit yang menyelaraskan pergerakan
satelit dalam orbit presisi bidang orbit dan pergerakan bumi mengelilingi
matahari, sedemikian rupa sehingga satelit tersebut akan melewati lokasi
tertentu di permukaan bumi selalu pada waktu lokal yang sama setiap harinya.
Ketinggian orbitnya 707 km dengan sudut inklinasi 98,2 derajat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar