Jumat, 11 Januari 2019

Oseanograf arus, gelombang dan pasang surut



Arus
Arus di laut merupakan suatu fenomena dinamika air laut yang terjadi setiap hari dan merupakan pencerminan gerakan massa air laut dari suatu tempat ke tempat lain. Fenomena ini berperan sangat penting dalam proses abrasi/akresi pantai, karakteristik ekosistem laut, serta pola penyebaran zat pencemar. Oleh karena itu dalam mempelajari proses abarasi pantai, karakteristik ekosistem laut serta pola penyebaran zat pencemar di laut, pengukuran arah dan kecepatan arus sangat perlu dilakukan. Berbagai cara untuk mengetahui pola arus laut dapat dilakukan, mulai dari pemakaian alat-alat sederhana   sampai   alat-alat   yang  canggih. Dalam tulisan ini penulis mencoba mengemukakan tiga buah alat sederhana yang dapat digunakan untuk mengetahui kecepatan dan arah arus laut. Alat tersebut mudah dibuat dan murah namun mempunyai nilai ketelitian dan ketepatan yang tinggi. Oleh karena itu kita kenal arus pasang surut diurnal, semi-diurnal dan campuran. Kecepatan maksimum arus umumnya tercapai pada waktu menjelang pasang dan menjelang surut, sedangkan arah arus pasang surut ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan atau topografi setempat. Di daerah pantai, arus pasang surut terbesar umumnya sejajar dengan garis pantai.
JENIS-JENIS ARUS LAUT
Arus laut merupakan sistem yang kompleks yang terbentuk akibat bermacam sebab, sehingga data arus menunjukkan kondisi arus sebenarnya yang mencakup semua komponen arus. Oleh sebab itu dalam analisa arus laut, data yang diperoleh diuraikan menjadi sejumlah komponen arus sesuai dengan penyebabnya. Penguraian arus laut tersebut sangat membantu dalam menyederhanakan sistem sirkulasi arus. Beberapa jenis arus yang umum dikenal adalah arus pasang surut, arus akibat gelombang (arus sejajar pantai), arus akibat tiupan angin, dan arus yang disebabkan perbedaan densitas air laut.
Arus pasang surut
Arus pasang surut adalah arus yang terjadi karena perubahan tinggi permukaan air laut akibat pasang surut. Karakteristik arus pasang surut adalah mempunyai periode yang  tetap, mengikuti pola pasang surut. Oleh karena itu kita kenal arus pasang surut diurnal, semi-diurnal dan campuran. Kecepatan maksimum arus umumnya tercapai pada waktu menjelang pasang dan menjelang surut, sedangkan arah arus pasang surut ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan atau topografi setempat. Di daerah pantai, arus pasang surut terbesar umumnya sejajar dengan garis pantai.

Arus gelombang / arus sejajar pantai.
Arus gelombang/arus sejajar pantai adalah arus yang terjadi akibat gelombang yang menghempas ke - daerah pesisir dan membuat sudut miring dengan garis pantai. Arah arus ini sejajar kontur kedalaman dan mempunyai kecepatan tinggi pada periode yang singkat, umumnya hanya beberapa menit dan berlangsung secara periodik sesuai dengan kondisi gelombang. Arus ini penting dalam transpor sedimen karena kecepatannya dan terjadinya pengadukan sedimen dasar oleh gelombang. Pertemuan dua arus gelombang sejajar pantai yang berlawanan pada suatu lokasi menimbulkan arus yang   dikenal   dengan  nama   'rip-current'.

Arus yang diakibatkan oleh angin
Arus yang diakibatkan oleh angin merupakan arus dominan yang terjadi di lapiran permukaan perairan laut lepas. Pengaruh tiupan angin musim misalnya di perairan dari Laut Cina Selatan hingga Laut Ambon, menyebabkan terjadinya pembalikan pola sirkulasi air laut mengikuti pola tiupan angin. Selama musim angin barat, aliran air bergerak menuju timur, dan berubah ke arah barat pada saat musim . timur. Jenis arus ini mempunyai arah dan kecepatan yang berbeda sesuai dengan pertambahan kedalaman air, dan umumnya menjadi sangat lemah pada kedalaman lebih dari 100 meter. Arah arusnya membentuk spiral yang dikenal dengan nama 'Spiral Ekman'. Di perairan lintang utara arah putaran searah dengan putaran jarum jam, sedangkan di perairan lintang selatan arah putarannya berlawanan dengan putaran jarum jam. Arus akibat angin ini juga terjadi di perairan pantai akibat tiupan angin setempat. Dalam kaitannya dengan tumpahan minyak di laut, pola tumpahan tersebut umumnya lebih mendekati pola arus akibat tiupan angin.
JENIS-JENIS ALAT PENGUKUR ARUS
Untuk mendapatkan data arus laut yang menggambarkan kondisi sirkulasi air laut yang sebenarnya merupakan hal yang sangat sulit. Kenyataan ini disebabkan oleh tingginya variabilitas sirkulasi air laut yang meliputi spektrum waktu dari sepersekian detik hingga tahunan. Oleh karena itu, walaupun menggunakan alat-alat ukur canggih sulit untuk mendapatkan hasil pengukuran yang tepat sama dari beberapa alat. Alat ukur yang dapat memberikan akurasi pengukuran misalnya 5%, sudah merupakan suatu alat ukur arus yang berpresisi tinggi. Dalam suatu penelitian, kualitas data pengukuran sebenarnya ditentukan oleh berapa besar ketelitian yang dituntut oleh metode penelitian yang dilakukan. Untuk studi yang berhubungan dengan biota laut, misalnya, data arus dengan ketelitian hingga 20% mungkin masih dianggap memadai. Sebalik-nya, untuk penelitian pengendalian penye-baran zat pencemar diharapkan ketelitian yang lebih tinggi. Dewasa ini dikenal beberapa teknik untuk mengukur arus laut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Alat ukur arus yang dikenal dengan nama "current meter" menggunakan teknik pengukuran secara tidak langsung, misalnya melalui jumlah putaran baling-baling dalam satuan waktu, dengan memanfaatkan karakteristik suara maupun medan elektromagnetik dari air laut. Current meter dapat dibedakan menurut cara penanganan data yang diukur. Ada yang merekam datanya untuk periode tertentu baik di kertas, film, pita magnetik, maupun direkam secara elektronik dengan menggunakan "memory chip". Jenis current meter ini disebut "Self-recording current meter". Dikenal pula current meter yang langsung menunjukkan data pengukuran pada ' tiisplay", alat ini disebut "Direct-reading current meter". Teknik pengukur arus secara langsung adalah dengan mengukur berapa jauh bergeraknya air persatuan waktu. Teknik ini umumnya menggunakan pelampung atau drouge, dan pengukurannya dilakukan secara manual. Prinsip kerja dari teknik-teknik pengukuran tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Secara mekanik dengan baling-baling : Sistem kerja dari jenis current meter ini   berdasarkan   pada   putaran   propeller (baling-baling) yang digerakkan oleh aliran air. Selanjutnya putaran baling-baling dihubungkan langsung keroda-roda gigi/jarum pe-nunjuk angka untuk mencari kecepatannya. Arah arus ditentukan dengan menggunakan kompas penunjuk arah yang terangkai secara mekanik dengan bantuan bola gotri kecil yang akan jatuh ke ruang arah arus melalui kompas penunjuk arah setiap pada putaran baling-baling tertentu. Sebagai con-toh adalah alat ukur arus jenis "Ekman Merz Current Meter". Sedangkan yang tidak berhubungan langsung ke balingbaling yaitu dengan menggunakan sistem coupling magnetik. Biasanya yang menggunakan sistem ini adalah alat ukur arus jenis recording yang hasil rekamannya dapat berupa kertas grafik. Sebagai contoh adalah "ONO Current Meter". Dapat juga berupa rekaman pita magnetik, seperti "Current Meter Aandera". Ada juga yang menggunakan sistem coupling magnetik yang terangkai langsung kedisplay, sebagai contoh adalah "Direct Reading Current Meter CM2". Untuk pengukuran arus kuat maupun arus lemah dapat dibedakan   dari  jenis  kalibrasi   baling-balingnya.
Secara mekanik dengan baling-baling : Sistem kerja dari jenis current meter ini   berdasarkan   pada   putaran   propeller tentang arus hingga 128 kedalaman sekaligus hanya dalam beberapa menit. Dewasa ini maksimum tebal kolom air yang dapat dimonitor mencapai 750 m. Baik alat ukur arus otomatis atau manual mempunyai harga yang mahal, dari beberapa juta hingga diatas 200 juta rupiah (alat ADCP). Jelas harga alat tersebut merupakan kendala utama bagi kebanyakan kegiatan pengukuran arus.
2.      Akustik. Pengukur arus jenis ini mirip dengan sistem kerja echosounder tetapi yang dimanfaatkan adalah perubahan frekwensi suara yang dipantulkan balik ke alat akibat gerakan partikel air. Alat ukur ini dikenal dengan nama "Acoustic Douppler Current Meter Profiler" (ADCP) yang dapat dipasang baik di kapal maupun didaiam air dengan teknik tambatan. Yang diukur dari alat ini adalah kecepatan dan komponen arus arah timur barat, utara selatan dan atas bawah sehingga dari hasil komponen tersebut dapat ditentukan arahnya. Dengan hanya satu alat ukur ADCP ini dapat diperoleh-   informasi tentang arus hingga 128 kedalaman sekaligus hanya dalam beberapa menit. Dewasa ini maksimum tebal kolom air yang dapat dimonitor mencapai 750 m. Baik alat ukur arus otomatis atau manual mempunyai harga yang mahal, dari beberapa juta hingga diatas 200 juta rupiah (alat ADCP). Jelas harga alat tersebut merupakan kendala utama bagi kebanyakan kegiatan pengukuran arus
3.      Pengukuran langsung. Banyak kegiatan penelitian tidak memerlukan data arus yang sangat detail seperti yang dihasilkan oleh alat-alat ukur canggih. Gambaran umumpola sirkulasi suatu tempat dalam penelitian inventarisasi biologi misalnya dapat diperoleh dengan metoda yang mudah dan murah seperti ' current drouge". Penelitian menggunakan current drouge telah sering dilakukan misalnya di Teluk Ambon (HUTAHAEAN and ANDERSON, 1987). Pada kesempatan berikut ini akan disajikan cara membuat "current drouge" untuk mengukur kecepatan dan arah arus secara langsung dan sederhana dengan biaya murah serta mudah dibuat, akan tetapi secara ilmiah hasilnya dapat dipertanggung jawabkan, yang merupakan modifikasi dari jenis cur— rent drouge dari Hydrographic Department (1983),Jepang.


PEMBUATAN CURRENT DROUGE
Alat yang akan dibuat dan dipergunakan kali ini adalah "Current Drouge". Ada beberapa jenis "current drouge" yang dapat dibuat sendiri yaitu : Current Drouge jenis sensor silang, Current Drouge jenis Parasut (ARIEF 1981) dan Current Drouge jenis layar. Prinsip ketiga alat tersebut adalah sama, perbedaannya hanya terletak pada sistem sensornya. luar dari permukaan air laut agar tidak terpengaruh oleh angin. Ikat pelampung pada tiang aluminium dan atur jarak dari kedudukan antara pelampung dan sensor silang. Apabila hendak mengukur arus pada kedalaman 2 m dari permukaan air laut maka jarak antara kedudukan pelampung dan sensor silang (ambil titik tengahnya untuk mengukur jarak) adalah 2 m. Setelah selesai terangkai, ikat dengan tali nilon yang panjangnya minimal 20 m dan sudah diberi tanda setiap ukuran 5 m. Tali tersebut diikatkan pada tiang aluminium tepat diatas pelampung. Cara ini penting diperhatikan gar supaya tali terbentang horizontal dipermukaan air dengan maksud tidak terjadi perbedaan tali terulur dengan jarak sesungguhnya, artinya bila tali terulur 10 m maka jarak sebenarnya 10 m juga.
1. Current Drouge Jenis Sensor Silang
A. Bahan yang diperlukan Current Drouge jenis sensor silang dapat diuraikan   menjadi   7   bagian   yaitu   : 1. Pelampung, sebagai pengatur dan penga- pung tiang penyangga agar bisa berdiri tegak. 2. Tiang Aluminium, untuk merangkai dan menentukan   kedalaman   sensor   silang.
 3. Tali nilon, dipilih yang kecil,ringan namun kuat, dan yang lemas karena apa- bila tali diulur tidak mengalami kesukaran Tali ini berguna untuk mengatur jarak pe- lepas current drouge. 4. Papan dari mika atau triplek, untuk mem buat sensor silang (Gambar 1).    Potong papan mika 2 lembar dengan ukuran 30- cm x 30 cm dan 2 lembar lagi dengan u- kuran 30 cm x 60 cm. 5. Alumunium siku, potong 2 batang dengan ukuran 40 cm, alumunium ini untuk me rangkai sensoj silang. 6. Pemberat, sebagai pengatur beban agarpe- lampung tepat pada posisi di bawah per- mukaanair (Gambar 1). 7. Bendera kecil, berfungsi  sebagai tan da current drouge dan dibuat tidak terlalu besar yang penting dapat terlihat'dengan jelas. Ini perlu diperhatikan sebab a^abila bendera dibuat terlalu besar maka  besar kemungkinan akan dipengaruhi hembusan angin.

B. Cara merangkai Ikat rangkaian sensor silang dari mika atau triplek pada ujung tiang paling bawah, usahakan ujung sensor silang bawah sama dengan ujung bawah tiang perangkai. Tambah pemberat yang berfungsi sebagai pengatur kedudukan tinggi rendahnya pelampung. Pelampung diusahakan tidak ke- dengan bentangan tali nilon current drouge maka akan diketahui kearah mana arus mengalir. Usahakan tempat pelepasan current drouge dibelakang perahu yang   telah   ditambat   dengan jangkar.
C. Cara kerja 1. Ambil  current  drouge  yang ujung tali nilonnya  telah  diikatkan  pada perahu. 2. Ceburkan ke laut dan ulur tali sampai panjang bentangan 5 m. 3. Pegang tanda tali 5 m pertama dan siap- kan stop watch atau jam tangan. 4. Lepaskan tanda tali pertama (5 m) ber- samaan   dengan   menekan   stop   watch start dan selanjutnya pegang tanda tali ke dua(lOm). 5. Ulur tali nilon tersebut agar mudah ter- urai. 6. Hentikan stop watch setelah tanda tali pertama   dan  kedua   terbentang   lurus. 7. Catat berapa detik waktu yang diperlu- kan untuk membentang tali dari tanda tali pertama  sampai  tanda tali ke dua (dalam jarak tempuh 5 m). 8. Untuk mengetahui arah arus digunakan kompas.  Bidikkan  arah kompas sejajar dengan bentangan tali nilon current drouge maka akan diketahui kearah mana arus mengalir. Usahakan tempat pelepasan current drouge dibelakang perahu yang   telah   ditambat   dengan jangkar.
D. Cara perhitungan Rumus  yang  dipergunakan adalah  : V = L : T x m/det  V =  Kecepatan arus  L = Jarak tempuh "current drouge", dalam satuan meter T =  Waktu yang  ditempuh  oleh current drouge dalam satuan detik.
Hasil pengukuran yang diperoleh dari current drouge ini merupakan kecepatan arus rata-rata selama selang waktu pengukuran didaerah ketinggian sensor silang terpasang sepanjang lintasannya.
E. Contoh perhitungan : Misalnya Jarak lintasan current drouge adalah 5 m, dan waktu tempuh adalah 10 detik, maka : Kecepatan arus = 5 :   10 x m/det = 0,5 m/detik.
Current drouge merupakan alat yang sangat sederhana dan praktis serta dapat menggantikan current meter standar. Selain untuk mengukur kecepatan arus, alat "current drouge" ini juga dapat untuk mengetahui lintasan arus (arus Lagrange). Dalam hal ini, sejumlah "current drouge" di hanyutkan dan diikuti selama waktu tertentu, misalnya 24 jam. Posisi "current drouge" tiap-tiap selang waktu tertentu ditentukan dengan menggunakan theodolit maupun GPS (Global Positioning System). Penggunaan theodolit memerlukan minimal dua titik stasiun tetap yang selalu mencatat
sudut pandang kepada "current drouge" tersebut secara bersamaan. Teknik ini menghasilkan lintasan aliran air yang sangat bermanfaat dalam menentukan pola penyebaran zat pencemar di air. Perlu diperhatikan bahwa kalibrasi alat ini dengan alat ukur arus standar merupakan suatu hal yang sangat pent ing. Kesamaan ha-sil antara alat ukur standar dengan "current drouge" yang baik bisa mencapai diatas 90 %, terutama untuk kondisi arus yang cukup kuat misalnya diatas kecepatan 30 cm/detik. Disamping itu, untuk meningkat-kan akurasi data, pengukuran waktu dan ja-rak gerak "current drouge" harus dimulai saat "current drouge" tersebut cukup jauh dari perahu, misalnya 5 meter. Pengaruh hempasan gelombang terutama di daerah pantai akan mengurangi ketelitian dari alat ini. Walaupun demikian hal tersebut tidak perlu dicemaskan karena sebagian besar alat ukur buatan pabrikpun mengalami masalah yang sama. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan pengamatan dengan lintasan yang lebih panjang, sehingga pengaruh gelombang menjadi minimum akibat proses perata-rataan.
2. Current Drouge Jenis Sensor Parasut.
A. Bahan yang diperlukan Bahan yang diperlukan "current drouge" jenis sensor parasit ini sama rangkaiannya dengan rangkaian "current drouge" jenis sensor silang, baik ukuran maupun bahannya. Perbedaan dengan yang pertama hanya pada sensornya, di sini dipakai parasit sebagai sensor (Gambar 2.).
B. Cara merangkai Tahapan merangkai jenis sensor ini sama dengan tahapan merangkai jenis sensor silang. Disajikan pada Gambar 3.
C. Cara kerja Cara kerja "current drouge" jenis sensor parasit ini pada prinsipnya sama dengan cara kerja "current drouge" jenis sensor silang.
D. Cara perhitungan Cara perhitungan alat ini sama halnya deng&n "current drouge" jenis sensor silang.
3. Current Drouge Jenis Sensor Layar
A. Bahan yang diperlukan : Bahan yang diperlukan untuk "current drouge" jenis Layar ini adalah sama dengan "current drouge sensor silang dan parasit. Perbedaannya terletak pada jenis sensornya, yaitu menggunakan layar yang dapat dibuat dari kain biasa, kain parasit maupun lembaran plastik. Ukuran dari layar ini disajikan pada Gambar 3.
B. Cara merangkai Tak ubahnya sama cara merangkainya dengan jenis yang dua diatas.
C. Cara kerja Cara kerja jenis alat ini sama dengan cara kerja kedua jenis alat di atas.
D. Cara perhitungan Cara perhitungannya pun sama dengan cara perhitungan kedua alat di atas

























 





































pemberat kecil

Gambar 2. Current Drouge Jenis Sensor Parasit































Gambar 3. Current Drouge Jenis Sensor Layar



Kamis, 10 Januari 2019

INSTRUMENTASI KELAUTAN

INSTRUMENTASI KELAUTAN

ALAT/INSTRUMEN KELAUTAN















Logo-Unlam.jpg
 













NAMA                       : MUHAMMAD JOHARI AL MUGHNI

NIM                             : G1F114035























PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

BANJARBARU
2019

PENDAHULUAN

Instrumentasi Kelautan adalah prinsip, teknik dan metode kalibrasi berbagai instrumen yang digunakan dalam survei penelitian dan kegiatan kelautan. Instrumentasi Kelautan merupakan bidang keilmuan berhubungan dengan alat-alat dan piranti (device) yang dipakai untuk pengukuran dan pengendalian dalam suatu sistem yang lebih besar dan lebih kompleks dalam dunia kelautan. Instrumentasi Kelautan sebagai alat pengukuran meliputi instrumentasi Oseanografi, Navigasi, Akustik, Optik dan Satelit.

A.    INSTRUMENTASI OSEANOGRAFI

1.      Winch
Winch adalah sebuah piranti atau alat yang banyak di gunakan untuk menarik beban dengan posisi horizontal.. Winch merupakan mesin bantu yang digunakan untuk menarik tali kerut atau tali kolor penggerakyang digunakan berupa tenaga hidrolik. Tenaga ini paling umum digunakan dan memiliki daya serta bentuk yang besar.

Penempatan winch di kapal ada yang di bagian belakang, di bagian depan, adapula ditempatkan di kedua sisi samping kamar kemudi. Pada umumnya dipasang pada kapal-kapal ikan pada skala industri. Trawl winch pada stern trawl terpelihara dari pengaruh angin dan gelombang, dengan demikian dalam cuaca buruk sekalipun operasi masih dapat dilakukan dengan mudah. Merk - merk winch pun mulai bertebaran di pasaran indonesia di antaranya Winch Warn, salah satu merk yang saat ini menjadi ikon tersendiri di kalangan offroader indonesia. Seiring berjalannya waktu winch merk lainpun sudah bisa menjadi second choise sebagai pengganti warn.

2.      CTD (Conductivity, Temperature and Depth)


CTD (Conductivity Temperature Depth) adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur karakteristik air seperti suhu, salinitas, tekanan, kedalaman, dan densitas.. Secara umum, sistem CTD terdiri dari unit masukan data, sistem pengolahan, dan unit luaran.

Unit masukan data terdiri dari sensor CTD, rosette, botol sampel, kabel koneksi dll. Sensor berfungsi untuk mengukur parameter karakteristik fisik air laut yang terdiri dari sensor tekanan, temperatur, dan konduktivitas. Botol sampel berfungsi sebagai wadah sampel air sedangkan rosset berfungsi untuk mengatur penutupan botol. Kabel koneksi berfungsi sebagai penompang, dan juga berfungsi sebagai pengantar sinyal. Telekomando akan memberikan sinyal kepada rosset untuk menutup botol secara berurutan, setelah mengambil sampel air laut. Unit pengolah terdiri dari sebuah unit pengontrol CTDS (CTD Sensor) dan komputer yang dilengkapi perangkat lunak.

Unit pengontrol berfungsi sebagai pengolah sinyal CTD, penampil hasil pengukuran serta pengubah sinyal analog ke digital. CTD mengontrol setiap kegiatan akusisi dan pengambilan sampel serta kalibrasi. Setiap penekanan tombol fungsi sesuai pada menu, maka printer akan mencetak posisi, kedalaman, salinitas, konduktifitas dan temperatur sehingga kronologis kegiatan pengoprasian CTD dapat terekam.

Sensor adalah sebuah piranti yang mengubah fenomena fisika menjadi sinyal elektrik. CTD memiliki tiga sensor utama, yakni sensor tekanan, sensor temperatur, dan sensor untuk mengetahui daya hantar listrik air laut (konduktivitas).

Pada Prinsipnya teknik pengukuran pada CTD ini adalah untuk mengarahkan sinyal dan mendapatkan sinyal dari sensor yang mendeteksi suatu besaran, kemudian mendapatkan data dari metode multiplexer dan pengkodean (decode), kemudian memecah data dengan metode enkoder untuk di transfer ke serial data stream dengan dikirimkan ke control unit via cabel. CTD diturunkan ke kolom perairan dengan menggunakan winch disertai seperangkat kabel elektrik secara perlahan hingga ke lapisan dekat dasar kemudian ditarik kembali ke permukaan. CTD memiliki tiga sensor utama, yakni sensor tekanan, sensor temperatur, dan sensor untuk mengetahui daya hantar listrik air laut (konduktivitas). Pengukuran tekanan pada CTD menggunakan strain gauge pressure monitor atau quartz crystal.
3.   Tide Gauge


Tide Gauge adalah alat yang digunakan untuk mengukur muka air laut. Sebagian besar tide gauge adalah alat pengukur berupa pelampung diletakkan pada titik yang terletak di pelabuhan, teluk, atau laguna. Dengan demikian pengukuran dari tide gauge tidak mewakili kondisi di sepanjang pantai terbuka tapi mewakili daerah yang dipasangi tide gauge . Tide Gauge yang digunakan oleh indonesia bukan tipe pelampung tapi menempel di pelabuhan.

Perpindahan dasar laut akibat gempa yang memiliki kekuatan besar dapat menghasilkan tsunami yang menyebar di lautan. Persebaran dari tsunami ini dapat dicatat oleh tide-gauge yang berada di sekitar zona gempa penghasil tsunami. Tide Gauge adalah alat yang digunakan untuk mengukur muka air laut. Sebagian besar tide gauge adalah alat pengukur berupa pelampung diletakkan pada titik yang terletak di pelabuhan, teluk, atau laguna. Dengan demikian pengukuran dari tide gauge tidak mewakili kondisi di sepanjang pantai terbu (Merrifield et. al, 2005). Tide Gauge yang digunakan oleh indonesia bukan tipe pelampung tapi menempel di pelabuhan.

4.    Pressure Gauge


Pressure Gauge adalah alat yang digunakan untuk mengukur tekanan fluida (gas atau liquid) dalam tabung tertutup. Pada sistem refrigerasi, prinsip pressure gauge yang sering digunakan biasanya bertipe manometer dan bourdon tube

5.   Buoy


Buoy adalah penanda yang diletakkan di laut agar kapal tidak merapat dikarenakan kedalaman laut yang terlalu dangkal. Buoy pada umumnya berwarna terang agar mudah dikenali dari jarak jauh.

Mooring buoy dilengkapi dengan beban yang lebih berat untuk diletakkan di dasar laut yang dinamakansinker. Sinker dihubungkan dengan buoymenggunakan rantai dan shackle. Panjang rantai yang terpasang adalah dua kali kedalaman laut di daerah mooring buoy dipasang. Hal ini bertujuan agar buoy tetap berada di radius yang ditentukan dan apabila pasang surut air laut terjadi, mooring buoy tetap berada di permukaan air. Pada bagian atas buoy terdapat bagian yang menjorok ke atas yang ditujukan sebagai tempat kapal menambatkan tali. Dengan demikian, ada dua kelebihan menggunakan mooring buoy. Pertama, kapal tidak

6.   Mooring





































Fungsi mooring pada prinsipnya adalah untuk “mengamankan” posisi kapal agar tetap pada tempatnya. Secara umum, mooring system yang digunakan untuk FSO/FPSO (Floating Production Storage and Offloading) adalah Spread Mooring, Turret Mooring, Tower Mooring, dan Buoy Mooring.
Ø  Spread Mooring

Boleh dibilang spread mooring adalah cara yang paling sederhana sebagai sarana tambat FSO/FPSO, karena pada system ini tidak memungkinkan bagi kapal untuk bergerak/berputar guna mencapai posisi dimana efek-efek lingkungan semisal angin, arus dan gelombang relative kecil. Namun hal ini akan mengakibatkan beban lingkungan terhadap kapal menjadi semakin besar, yang mana akan mengakibatkan bertambahnya jumlah mooring lines dan atau line tension-nya.

Peralatan yang digunakan biasanya merupakan peralatan yang pada umumnya sudah tersedia di kapal. Pada system ini digunakan satu set anchor legs dan mooring lines yang biasanya terletak pada posisi bow dan stern kapal. Karena peralatan yang digunakan relative sederhana, maka tidak perlu dry docking untuk


melakukan modifikasi terhadap mooring systemnya. Spread mooring dapat diterapkan pada setiap type kapal, namun dengan tetap memperhatikan fasilitas produksi di atas kapal. Pada FPSO Belanak Natuna yang di atasnya terdapat fasilitas produksi crude oil dan LPG, maka posisi fixed heading menjadi kebutuhan yang sangat penting dan oleh karenanya digunakan system spread mooring, karena pergerakan/perputaran dari kapal akan sangat berpengaruh pada proses produksi LPG. Pada system ini, peralatan offloading biasanya terletak di bow atau stern kapal, atau dengan menggunakan buoy yang didedikasikan khusus untuk sarana transfer cargo.
Ø   Turret Mooring

Pada system ini kapal dihubungkan dengan turret, yang mana dengan adanya bearing memungkinkan kapal untuk dapat berputar. Dibandingkan dengan spread mooring, pada system ini riser dan umbilical yang diakomodasi dapat lebih banyak lagi. Turret mooring dapat berupa external turret atau internal turret :
Ø  External Turret

External Turret dapat diletakkan pada posisi bow atau stern kapal, di luar lambung kapal, memungkinkan kapal untuk dapat berputar 360 derajat dan beroperasi pada kondisi cuaca normal maupun extreme. Chain leg “ditanam” di dasar laut dengan anchor atau piles. Biaya pembuatannya lebih murah dibandingkan dengan internal turret dan modifikasi yang dilakukan di kapal tidak terlalu banyak. Selain posisi turret, perbedaan lain dibandingkan dengan internal turret adalah posisi chain table-nya. Pada external turret, chain table terletak di atas water level, sedangkan pada internal turret, chain table terendam di bawah garis air. Pada umumnya system ini digunakan di perairan yang tidak terlalu dalam dan pada lapangan yang relative kecil.Contoh aplikasi di Indonesia : FPSO Anoa Natuna
Ø  Internal Turret

Keunggulan system ini adalah dapat terpasang secara permanen maupun tidak (dis-connectable), dapat diaplikasikan pada lapangan dengan kondisi lingkungan yang moderat sampai ekstrim, dan sesuai untuk deepwater. System ini dapat mengakomodasi riser hingga 100 unit dan kedalaman laut hingga 10,000 feet. Rasanya belum ada contoh aplikasi di Indonesia.
Ø  Tower Mooring

Pada system ini FSO/FPSO dihubungkan ke tower dengan suatu permanent wishbone atau permanen/temporary hawser. Sesuai untuk laut dangkal hingga sedang dengan arus yang cukup kuat.Keuntungannya adalah :

Transfer fluida yang sederhana, dengan menggunakan jumper hoses dari tower ke kapal, Akses langsung dari kapal ke tower,Modifikasi yang tidak terlalu banyak pada kapal, Semua mechanical equipment terletak di atas sea level. Contoh aplikasi di Indonesia : FSO Ladinda.

Ø       Buoy Mooring

Pada system ini sebuah buoy digunakan sebagai mooring point kapal dan untuk offloading fluida. Tujuan utamanya adalah untuk transfer fluida dari daratan atau fasilitas offshore lainnya ke kapal yang sedang ditambatkan. Komponen-komponennya antara lain: Buoy Body, sebagai penyedia stabilitas dan buoyancy, Komponen Mooring dan Anchoring, menghubungkan buoy dengan seabed dan hawser menghubungkan buoy dengan kapal.

7.            Current Meter


Current meter berfungsi sebagai Pengukuran arus, baik dengan metode langlarian maupun metode eularian.Sebuah currentmeter yang ideal harus memiliki respon yang cepat dan konsisten dengan setiap perubahan yang terjadi pada kecepatan air, dan harus secara akurat dan terpercaya sesuai dengan komponen velositas.

Secara umum current meter yang biasa dipergunakan memiliki dua tipe : dengan “verctical axis meter” dan “axis meter horizontal”. Dalam kedua perbedaan tersebut rotasi dan rotor dari propeller dipergunakan untuk menentukan kecepatan aruslaut sesuai dengan pengaturan pada current meter.
8.   Spektrofotometer

.



Tekanan akan dicatat dalam desibar kemudian tekanan dikonversi menjadi kedalaman dalam meter. Sensor temperatur yang terdapat pada CTD menggunakan thermistor, termometer platinum atau kombinasi keduanya. Sel induktif yang terdapat dalam CTD digunakan sebagai sensor salinitas. Pengukuran data tercatat dalam bentuk data digital. Data tersebut tersimpan dalam CTD dan ditransfer ke komputer setelah CTD diangkat dari perairan atau transfer data dapat dilakukan secara kontinu selama perangkat perantara (interface) dari CTD ke komputer tersambung.
9.   DO Meter

















Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia adalah cara langsung untuk menentukan oksigen terlarut dengan alat DO meter. Prinsip kerjanya adalah menggunakan probe oksigen yang terdiri dari katoda dan anoda yang direndam dalarn larutan elektrolit. Pada alat DO meter, probe ini biasanya menggunakan katoda perak ( Ag ) dan anoda timbal ( Pb ). Secara keseluruhan, elektroda ini dilapisi dengan membran plastik yang bersifat semi permeable terhadap oksigen.

10. Hand Refraktometer



















Hand Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar atau konsentrasi bahan terlarut misalnya : Gula, Garam, Protein dsb. Prinsip kerja dari refraktometer sesuai dengan namanya adalah dengan memanfaatkan refraksi cahaya.

11. pH Meter


pHmeter adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur tingkat keasaman dan kebasaan. Keasaman dalam larutan itu dinyatakan sebagai kadar ion hidrogen disingkat dengan [H+], atau sebagai pH yang artinya –log [H+]. Dengan kata lain pH

merupakan ukuran kekuatan suatu asam. Cara kerja alat ini adalah dengan cara mencelupkan kedalam air yang akan diukur (kira-kira kedalaman 5cm) dan secara otomatis alat bekerja mengukur. Pada saat pertama dicelupkan, angka yang ditunjukkan oleh display masih berubah-ubah, tunggulah kira-kira 2 sampai 3 menit sampai angka digital stabil.

12. Tide Staff



















Alat ini berupa papan yang telah diberi skala dalam meter atau centi meter. Biasanya digunakan pada pengukuran pasangsurut di lapangan. Tide Staff (papan Pasut) merupakan alat pengukur pasut paling sederhana yang umumnya digunakan untuk mengamati ketinggian muka laut atau tinggi gelombang air laut. Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu, alumunium atau bahan lain yang di cat anti karat.


B.     INSTRUMEN NAVIGASI 1. Radio GMDSS


Digital Selective Calling (DSC) pada MF, HF dan VHF radio maritim sebagai bagian dari sistem GMDSS.DSC terutama ditujukan untuk memulai kapal ke kapal, kapal ke pantai dan pantai ke kapal telepon radio dan MF / HF radiotelex panggilan.Panggilan DSC juga dapat dibuat untuk stasiun individu, kelompok stasiun, atau semua stasiun dalam jangkauan seseorang.Setiap kapal DSC dilengkapi, stasiun pantai dan kelompok ditugaskan unik 9-digit Maritime Mobile Service Identity.

Alert distress DSC, yang terdiri dari sebuah pesan marabahaya terformat, digunakan untuk memulai komunikasi darurat dengan kapal dan pusat koordinasi penyelamatan. DSC dimaksudkan untuk menghilangkan kebutuhan bagi orang-orang di jembatan kapal atau di pantai untuk terus menjaga penerima radio pada saluran radio suara, termasuk saluran VHF 16 (156,8 MHz) dan 2182 kHz sekarang digunakan untuk marabahaya, keselamatan dan panggilan. Sebuah arloji mendengarkan kapal kapal GMDSS dilengkapi pada 2182 kHz.

2.    Sextans

Sextans adalah konstelasi khatulistiwa minor yang diperkenalkan pada abad ke-17 oleh Johannes Hevelius.Namanya adalah Latin untuk sekstan astronomi,

instrumen yang Hevelius sering melakukan penggunaan dalam pengamatannya.Dalam dunia pelayaran digunakan untuk menentukan posisi kapal artikel baru menghitung ketingaian benda angkasa dan azimutnya.

3.   LORAN (Long Range Navigation)


















Loran (Long Range Navigation)adalah sistem navigasi radio terestrial menggunakan frekuensi rendah pemancar radio yang menggunakan beberapa pemancar ( multilateration) untuk menentukan lokasi dan atau kecepatan penerima. Versi saat ini dari LORAN umum digunakan adalah LORAN - C , yang beroperasi di bagian frekuensi rendah dari spektrum EM 90-110 kHz.Terutama untuk melayani sebagai cadangan untuk GPS dan metode navigasi GNSS systemsyang disediakan oleh LORAN didasarkan pada prinsip perbedaan waktu antara penerimaan sinyal dari sepasang pemancar radio.[ 3 ] A diberikan konstan perbedaan waktu antara sinyal dari dua stasiun dapat diwakili oleh garis hiperbolik posisi ( LOP ) . Jika posisi dua stasiun disinkronkan diketahui , maka posisi penerima dapat ditentukan sebagai suatu tempat pada kurva hiperbolik tertentu di mana perbedaan waktu antara sinyal yang diterima adalah konstan .


Dalam kondisi ideal, hal ini secara proporsional setara dengan perbedaan jarak dari receiver ke masing-masing dari dua stasiun.

Dengan sendirinya, dengan hanya dua stasiun, posisi 2 dimensi penerima tidak dapat diperbaiki. Sebuah aplikasi kedua prinsip yang sama harus digunakan, didasarkan pada perbedaan waktu dari sepasang yang berbeda dari stasiun. Dengan menentukan persimpangan dua kurva hiperbolik diidentifikasi oleh penerapan metode ini, memperbaiki geografis dapat ditentukan.

4.   Navtex




















Navtexa dalah sistem otomatis internasional untuk langsung mendistribusikan peringatan maritim navigasi, ramalan cuaca dan peringatan, pencarian dan penyelamatan pemberitahuan dan informasi yang serupa dengan kapal A, rendah-biaya kecil dan pencetakan radio penerima dipasang di jembatan, atau tempat dari mana kapal berlayar, dan memeriksa setiap pesan yang masuk untuk melihat apakah telah diterima selama transmisi sebelumnya, atau jika itu adalah kategori yang tidak tertarik untuk menguasai kapal. Frekuensi transmisi pesan ini adalah 518 kHz dalam bahasa Inggris, sementara 490 kHz digunakan untuk menyiarkan dalam bahasa lokal.

Pesan dikodekan dengan kode sundulan diidentifikasi menggunakan alfabet untuk mewakili stasiun penyiaran, jenis pesan, dan diikuti oleh dua angka yang menunjukkan nomor urut pesan.

5.    Search and Rescue Transponder (SART)

















Perangkat yang digunakan untuk menemukan kelangsungan hidup kerajinan atau pembuluh tertekan dengan menciptakan serangkaian titik pada layar radar 3


cm kapal penyelamatkan itu.Jangkauan deteksi antara perangkat ini dan kapal, tergantung pada ketinggian radar tiang kapal dan ketinggian SART, biasanya sekitar 15 km (8 mil laut).Perhatikan bahwa radar laut tidak dapat mendeteksi SART bahkan dalam jarak ini, jika pengaturan radar tidak dioptimalkan untuk deteksi SART.Setelah terdeteksi oleh radar, SART yang akan menghasilkan indikasi visual dan aural.

C. INSTRUMEN AKUSTIK

1.   Fish Finder





















Fish Finder bekerja berdasarkan pemantulan gelombang suara yang dipancarkan dari permukaan perairan sampai dasar lautan. Ketika bunyi yang dipancarkan kedasar lautan tersebut membentur suatu benda dan kembali ke penerima sonar, maka jaraknya yang ditempuh oleh bunyi tersebut dapat diukur, maka dapat diketahui letak benda tersebut dibawah permukaan laut.

2.   Sonar

Sonar (Sound Navigation and Ranging) merupakan suatu peralatan atau piranti yang digunakan dalam komunikasi di bawah laut, sonar sendiri bekerja untuk mencari atau mendeteksi suatu benda yang ada di bawah laut dengan cara mengirim gelombang suara yang nantinya gelombang suara tersebut dipantulkan kembali oleh benda yang akan dideteksi. Sonar biasa dimanfaatkan dalam mengukur kedalaman laut (Bathymetry), pengidentifikasian jenis-jenis lapisan sedimen dasar laut (Subbottom Profilers), pemetaan dasar laut (Sea Bed Mapping), mendeteksi kapal selam dan ranjau, analisa dampak lingkungan didasar laut, menangkap ikan serta berbagai kegiatan komunikasi di bawah laut. Sebuah sonar terdiri dari sebuah pemancar, transducer, penerima/receiver, dan layar monitor.Sonar sendiri pada awalnya diinspirasi dari lonceng bawah air yang digunakan untuk mengukur kecepatan suara dalam air, kemudian berkembang dan dimanfaatkan dalam mendeteksi gunung es yang ada dalam laut ketika kapal laut melintas.Seiring dengan perkembangan waktu, sonar dimanfaatkan dalam perang dunia I untuk mendeteksi kapal selam.Semenjak itu sonar benar-benar dikembangkan dan dimanfaatkan dalam dunia militer dan perang.

3.    Echosounder






















Echosounder merupakan salah satu alat yang penting untuk mengetahui kedalaman laut dan dapat juga sebagai pengukur jarak dengan ultrasonic.Kedalaman dasar laut dapat dihitung dari perbedaan waktu antara pengiriman dan penerimaan pulsa suara. Echosounder memiliki beberapa pertimbangan sistem, diantaranya Side-Scan Sonar, Sub-Bottom Profling, Single-Beam Echosounder, dan Multi-Beam Echosounder.

Side-Scan Sonar pada saat ini, pengukuran kedalaman dasar laut (bathymetry) dapat dilaksanakan bersama-sama dengan pemetaan dasar laut (Sea Bed Mapping) dan pengidentifikasian jenis-jenis lapisan sedimen dibawah dasar laut (subbottom profilers).

Sistem Side-Scan Sonar mengirimkan pulsa akustik pada suatu sisi dari receiver dan merekam amplitude energi balikan dari pulsa yang dipancarkan oleh sensor.Tiap pancaran pulsa, satu lajur kecil (sekitar 100 sampai 200 m ke tiap sisi) dari dasar laut dipetakan.Tiap pergerakan kapal, lajur ke lajur dipetakan.Pada dasar laut yang datar sempurna semua energi dipantulkan dari sensor sonar dan tidak ada sinyal yang terekam.Dalam faktanya, dasar laut tidak rata sempurna.Ketidakteraturan seperti bebatuan dan riak-riak air karena pantulan (backscatter) dari energi akustik dan sistem dapat menyediakan informasi secara kasar keadaan dasar laut.

Sub-Bottom Proflingmerupakan suatu sistem untuk mengidentifikasi dan mengukur variasi dari lapisan-lapisan sedimen yang ada di bawah permukaan air. Sistem akustik yang digunakan dalam penentuan sub-bottom profiling hampir sama dengan alat pada echosounder.

Sumber suara memancarkan sinyal secara vertikal ke bawah menelusuri air dan receiver memonitor sinyal balikan yang telah dipantulkan dasar laut. Batasan antara dua lapisan memiliki perbedaan ciri akustik (acoustic impedance = rintangan akustik). Sistem menggunakan energi pantulan untuk mengumpulkan informasi lapisan-lapisan sedimen di bawah dasar permukaan air (tampilan muka sedimen bawah air). Rintangan akustik berhubungan dengan tingkat kekentalan atau berat jenis (densitas) dari kandungan material dan tingkat kecepatan suara menelusuri material.Ketika terjadi perubahan rintangan akustik, seperti tampilan muka sedimen bawah air, bagian suara yang diteruskan kemudian dipantulkan kembali. Bagaimanapun, beberapa energi suara menembus menelusuri sampai batas dan kedalam lapisan sedimen.Energi ini dipantulkan ketika menembus batas antara lapisan


sedimen yang lebih dalam yang memiliki rintangan akustik yang berbeda-beda.Sistem ini menggunakan energi yang dipantulkan oleh lapisan-lapisan untuk membentuk penampang dari bagian sub-bottom lapisan-lapisan sedimen.

Beberapa parameter-parameter dari sonar (tenaga keluaran, frekuensi dari sinyal, dan panjang gelombang pulsa yang dipancarkan) mempengaruhi performa dari alat yang digunakan.

Single-Beam Echosunder merupakan alat ukur kedalaman air yang menggunakan pancaran tunggal sebagai pengirim dan penerima sinyal gelombang suara. Sistem batimetri dengan menggunakan single beam secara umum mempunyai susunan : transciever (tranducer/reciever) yang terpasang pada lambung kapal atau sisi bantalan pada kapal. Sistem ini mengukur kedalaman air secara langsung dari kapal penyelidikan. Transciever yang terpasang pada lambung kapal mengirimkan pulsa akustik dengan frekuensi tinggi yang terkandung dalam beam (gelombang suara) secara langsung menyusuri bawah kolom air. Energi akustik memantulkan sampai dasar laut dari kapal dan diterima kembali oleh tranciever.Transciever terdiri dari sebuah transmitter yang mempunyai fungsi sebagai pengontrol panjang gelombang pulsa yang dipancarkan dan menyediakan tenaga elektris untuk besar frekuensi yang diberikan.Transmitter ini menerima secara berulang-ulang dalam kecepatan yang tinggi, sampai pada orde kecepatan milisekon.Perekaman kedalaman air secara berkesinambungan dari bawah kapal menghasilkan ukuran kedalaman beresolusi tinggi sepanjang lajur yang disurvei. Informasi tambahan seperti heave (gerakan naik-turunnya kapal yang disebabkan oleh gaya pengaruh air laut), pitch (gerakan kapal ke arah depan (mengangguk) berpusat di titik tengah kapal), dan roll (gerakan kapal ke arah sisi-sisinya (lambung kapal) atau pada sumbu memanjang) dari sebuah kapal dapat diukur oleh sebuah alat dengan nama Motion Reference Unit (MRU), yang juga digunakan untuk koreksi posisi pengukuran kedalaman selam proses berlangsung. Single-Beam echosounder relatif mudah untuk digunakan, tetapi alat ini hanya menyediakan informasi kedalaman sepanjang garis track yang dilalui oleh kapal. Jadi, ada feature yang tidak terekam antara lajur per lajur sebagai garis tracking perekaman, yang mana ada ruang sekitar 10 sampai 100 m yang tidak terlihat oleh sistem ini.

Multi-Beam Echosunder merupakan alat untuk menentukan kedalaman air dengan cakupan area dasar laut yang luas.Prinsip operasi alat ini secara umum adalah berdasar pada pancaran pulsa yang dipancarkan secara langsung ke arah dasar laut dan setalah itu energi akustik dipantulkan kembali dari dasar laut (sea bed), beberapa pancaran suara (beam) secara elektronis terbentuk menggunakan teknik pemrosesan sinyal sehingga diketahui sudut beam.Dua arah waktu penjalaran antara pengiriman dan penerimaan dihitung dengan algoritma pendeteksian terhadap dasar laut tersebut.Dengan mengaplikasikan penjejakan sinar, sistem ini dapat menentukan kedalaman dan jarak transveral terhadap pusat area liputan. Multi-Beam Echosounder dapat menghasilkan data batimetri dengan resolusi tinggi ( 0,1 m akurasi vertikal dan kurang dari 1 m akurasi horisontalnya).

D. INSTRUMEN OPTIK
1.  Theodolite





















Theodolite adalah salah satu alat ukur tanah yang digunakan untuk menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak.Pada dasarnya alat ini berupa sebuah teleskop yang ditempatkan pada suatu dasar berbentuk membulat (piringan) yang dapat diputar-putar mengelilingi sumbu vertikal, sehingga memungkinkan sudut horisontal untuk dibaca.Teleskop tersebut juga dipasang pada piringan kedua dan dapat diputar-putar mengelilingi sumbu horisontal, sehingga memungkinkan sudut vertikal untuk dibaca.

Theodolite merupakan alat yang paling canggih di antara peralatan yang digunakan dalam survei. Pada dasarnya alat ini berupa sebuah teleskop yang ditempatkan pada suatu dasar berbentuk membulat (piringan) yang dapat diputar-putar mengelilingi sumbu vertikal, sehingga memungkinkan sudut horisontal untuk dibaca. Teleskoptersebut juga dipasang pada piringan kedua dan dapat diputar-putar mengelilingi sumbuhorisontal, sehingga memungkinkan sudut vertikal untuk dibaca. Kedua sudut tersebutdapat dibaca dengan tingkat ketelitian sangat tinggi.

2.  Waterpass












Waterpass adalah alat yang digunakan untuk mengukur atau menentukan sebuah benda atau garis dalam posisi rata baik pengukuran secara vertikal maupun horizontal. Ada banyak jenis alat waterpass yang digunakan dalam pertukangan, tapi jenis yang paling sering dipergunakan adalah waterpass panjang 120 cm yang terbuat dari bahan kayu dengan tepi kuningan, dimana alat ini terdapat dua buah alat pengecek kedataran baik untuk vertikal maupun horizontal yang terbuat dari kaca dimana didalamnya terdapat gelembung cairan, dan pada posisi pinggir alat terdapat garisan pembagi yang dapat dipergunakan sebagai alat ukur panjang.


Saat ini waterpass banyak dijumpai dalam berbagai ukuran dan bahan. Ukuran yang umum dapat dijumpai adalah waterpass dengan panjang 0,5 m, 1 m, 2m, dan 3 m. Umumnya berbentuk persegi panjang dengan lebar 5-8 cm dan tebal 3 cm. Kedua sisi mempunyai permukaan rata sebagai bidang yang ditempatkan ke permukaan yang akan diperiksa kedataran atau ketegakannya. Ditengah bagian adalah terdapat berbentuk lobang dan ditengahnya sebagai penempatan kaca gelembung sebagai alat pemeriksaan kedataran, dan pada salah satu ujung terdapat lobang dan ditengahnya sebagai penempatan kaca gelembung sebagai alat pemeriksaan ketegakan vertikal.Bahan waterpass yang umum terdapat adalah dari bahan kayu dan aluminium. Umumnya orang lebih menyukai waterpass yang terbuat dari bahan aluminium karena lebih tahan lama dan lebih ringan untuk digunakan.

Pemakaian waterpass dilakukan dengan sederhana, yaitu menempatkan permukaan alat ke bidang permukaan yang di cek. Untuk mengecek kedataran maka dapat diperhatikan gelembung cairan pada alat pengukur yang ada bagian tengah alat waterpass. Sedangkan untuk mencek ketegakan maka dapat dilihat gelembung pada bagian ujung waterpass. Untuk memastikan apakah bidang benar rata maka gelembung harus benar benar berada ditengah alat yang ada.

E.  INSTRUMEN SATELIT
1.   Satelit SPOT (systeme pour I’observation de la terre)




















Merupakan satelit milik perancis yang mengusung pengindera HRV (SPOT1,2,3,4) dan HRG (SPOT5). Satelit ini mengorbit pada ketinggian 830 km dengan sudut inklinasi 80 derajat.Satelit SPOT memiliki keunggulan pada sistem sensornya yang membawa dua sensor identik yang disebut HRVIR (haute resolution visibel infrared).Masing-masing sensor dapat diatur sumbu pengamatanya kekiri dan kekanan memotong arah lintasan satelit merekam sampai 7 bidang liputan. Fungsi dari satelit SPOT adalah untuk akurasi monitoring bumi secara global.

2.  Satelit Landsat (land satelite)

















Citra Landsat TM merupakan salah satu jenis citra satelit penginderaan jauh yang dihasilkan dari sistem penginderaan jauh pasif.Landsat memiliki 7 saluran dimana tiap saluran menggunakan panjang gelombang tertentu. Satelit landsat merupakan satelit dengan jenis orbit sunsynkron (mengorbit bumi dengan hampir melewati kutub, memotong arah rotasi bumi dengan sudut inklinasi 98,2 derajat dan ketinggian orbitnya 705 km dari permukaan bumi. Luas liputan per scene 185 km x 185 km. Landsat mempunyai kemampuan untuk meliput daerah yang sama pada permukaan bumi pada setiap 16 hari, pada ketinggian orbit 705 km. Fungsi dari satelit landsat adalah untuk pemetaan penutupan lahan, pemetaan penggunaan lahan, pemetaan tanah, pemetaan geologi, dan pemetaan suhu permukaan laut.

3.  Satelit ASTER (Advanced Spaceborne Emission and Reflecton Radiometer)



















Satelit yang dikembangkan negara Jepang dimana sensor yang dibawa terdiri dari VNIR, SWIR, dan TIR. Satelit ini memiliki orbit sunshyncronus yaitu orbit satelit yang menyelaraskan pergerakan satelit dalam orbit presisi bidang orbit dan pergerakan bumi mengelilingi matahari, sedemikian rupa sehingga satelit tersebut akan melewati lokasi tertentu di permukaan bumi selalu pada waktu lokal yang sama setiap harinya. Ketinggian orbitnya 707 km dengan sudut inklinasi 98,2 derajat.