Oseanografi adalah
disiplin ilmu yang bersangkutan dengan semua aspek dari kelautan di dunia dan
samudera, termasuk sifat fisik, kimia ,biologi mereka, asal mereka dan geologi,
dan bentuk kehidupan yang menghuni lingkungan laut.
Secara tradisional, oseanografi
telah dibagi menjadi empat cabang terpisah namun berhubungan: oseanografi fisik,
oseanografi kimia, geologi laut, dan biologi laut. Oseanografi fisik menawarkan
dengan sifat-sifat air laut (suhu, densitas, tekanan, dan sebagainya), gerakan
(gelombang, arus, dan pasang surut), dan interaksi antara air laut dan
atmosfer. Oseanografi kimia berkaitan dengan komposisi air laut dan siklus
biogeokimia yang mempengaruhi hal itu.
A. Oeseanografi Fisika
1. Gelombang
Gelombang/ombak yang terjadi di lautan dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa macam tergantung kepada gaya pembangkitnya.
Pembangkit gelombang laut dapat disebabkan oleh: angin (gelombang angin), gaya
tarik menarik bumi-bulan-matahari (gelombang pasang-surut), gempa (vulkanik
atau tektonik) di dasar laut (gelombang tsunami), ataupun gelombang yang
disebabkan oleh gerakan kapal. Gelombang yang sehari-hari terjadi dan
diperhitungkan dalam bidang teknik pantai adalah gelombang angin dan
pasang-surut (pasut). Gelombang dapat membentuk dan merusak pantai dan
berpengaruh pada bangunan-bangunan pantai. Energi gelombang akan membangkitkan
arus dan mempengaruhi pergerakan sedimen dalam arah tegak lurus pantai
(cross-shore) dan sejajar pantai (longshore). Pada perencanaan teknis bidang
teknik pantai, gelombang merupakan faktor utama yang diperhitungkan karena akan
menyebabkan gaya-gaya yang bekerja pada bangunan pantai
Definisi gelombang
Gelombang adalah pergerakan naik dan turunnya air dengan
arah tegak lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal.
Gelombang laut disebabkan oleh angin. Angin di atas lautan mentransfer
energinya ke perairan, menyebabkan riak-riak, alun/bukit, dan berubah menjadi
apa yang kita sebut sebagai gelombang.
Pengaruh gelombang
Pada kondisi sesungguhnya di alam, pergerakan orbital di
perairan dangkal (shallow water) dekat dengan kawasan pantai dapat dilihat pada
gambar animasi dibawah ini. Pada gambar animasi ini, dapatlah kita bayangkan
bagaimana energi gelombang mampu mempengaruhi kondisi pantai.
Pergerakan partikel air saat penjalaran gelombang menuju
pantai
Ketinggian dan periode gelombang tergantung kepada panjang
fetch pembangkitannya. Fetch adalah jarak perjalanan tempuh gelombang dari awal
pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh bentuk daratan yang mengelilingi laut.
Semakin panjang jarak fetchnya, ketinggian gelombangnya akan semakin besar.
Angin juga mempunyai pengaruh yang penting pada ketinggian gelombang. Angin
yang lebih kuat akan menghasilkan gelombang yang lebih besar.
Gelombang yang menjalar dari laut dalam (deep water) menuju
ke pantai akan mengalami perubahan bentuk karena adanya perubahan kedalaman
laut. Apabila gelombang bergerak mendekati pantai, pergerakan gelombang di
bagian bawah yang berbatasan dengan dasar laut akan melambat. Ini adalah akibat
dari friksi/gesekan antara air dan dasar pantai. Sementara itu, bagian atas
gelombang di permukaan air akan terus melaju. Semakin menuju ke pantai, puncak
gelombang akan semakin tajam dan lembahnya akan semakin datar. Fenomena ini yang
menyebabkan gelombang tersebut kemudian pecah.
2. Pasang
Surut
Pasang surut air laut adalah
peristiwa naik turunnya muka air laut sebagai akibat adanya gaya tarik-menarik
antara planet-planet yang mempunyai suatu gerakan periodik, sehingga gaya yang
akan terjadi pada bumi akibat gaya tarik tersebut besarnya berbanding terbalik
dengan kuadrat jarak dan berbanding langsung dengan massa-masssanya.
Dengan kenyataan ini, maka gaya
tarik menarik bulan akan lebih besar pengaruhnya terhadap massa bumi
dibandingkan dengan matahari dan planet lain, pengaruhnya dapat dianggap nol.
Selain faktor utama tersebut diatas, terjadinya pasang surut dapat pula
dipengaruhi oleh gerakan-gerakan lainnya seperti rotasi bumi, revolusi bulan
terhadap bumi, revolusi bumi terhadap matahari, dan lain-lainnya.
Jenis dan Sifat Pasang Surut Air
Laut
Jenis dan sifat pasang surut yang
terjadi dipermukaan bumi sangat bervariasi. Hal ini disebabkan karena faktor
topografi yang bervariasi, terutama didaerah kepulauan dengan selat-selat
sempit dan terjal akan nampak suatu pasang surut yang berbeda di laut lepas.
Laut atau selat-selat sempit dapat
menimbulkan suatu resonansi pasang surut, sehingga dapat mempengaruhi sifat dan
jenis pasang utama. Dan begitu pula pada tebing-tebing laut yang terjal akan
menimbulkan tunggang air yang lebih besar. Pasang surut air laut dapat
dibedakan atas 3 (tiga) jenis yaitu:
1.
Diurnal tide yaitu pasang surut
tunggal yang terjadi apabila dalam waktu 24 jam terjadi dua kali air tinggi dan
satu kali air rendah.
2.
Semi diurnal tide yaitu pasang surut
ganda terjadi apabila dalam waktu 24 jam terjadi dua kali air tinggi dan dua
kali air rendah.
3. Mixed tide yaitu pasang surut
campuran terjadi apabila dalam waktu 24 jam terdapat kedudukan air tinggi dan
rendah yang tidak teratur.

Cara Pengambilan Data Pasang Surut
Pengambilan data pasang surut bisa
dilakukan dengan menggunakan bak ukur berskala yang dipasang di dasar pantai
dimana skala nol terletak dibawah permukaan air laut pada saat terjadi air
rendah terendah dan bacaan skala masih dapat terbaca pada saat terjadi air
tinggi tertinggi.
Setelah bak ukur berskala terpasang,
dilakukan pengamatan pasang surut dengan interval 5 menit selama 24 jam (satu
kali pengamatan). Hasil yang diperoleh nantinya akan dimasukkan kedalam kurva
pasang surut untuk menentukan jenis pasang surut.
3. Arus
Secara umum pengertian arus laut adalah gerak air
laut, dimana proses terjadinya sangat dipengaruhi oleh kecepatan angin, tekanan
air (densitas), topografi dasar laut, gaya koriolis dan arus ekman. Berdasarkan
hal tersebut diatas, menurut para ahli, arus laut dapat dikenal dalam beberapa
jenis diantaranya adalah arus elementer, arus elmen, arus thermoholin,
upwelling, down-welling (sinkling) dan arus pantai.
Sebelum membahas lebih jauh, diharapkan sobat
geologinesia sudah memahami perbedaan antara arus laut dan gelombang laut.
Gelombang laut merupakan gerakan air secara osilasi dengan permukaan naik
turun, mempunyai panjang, tinggi periode, kecepatan, energi dan lain – lain.
Dibawah ini disajikan penjelasan mengenai jenis arus laut dan penyebab
terjadinya.

Arus Elementer
Arus
elementer adalah arus laut yang timbul akibat pengaruh luar seperti :
·
Arus euler yaitu arus
yang timbuil oleh gerakan lokal seperti taupan, gelombang dan lain-lain.
·
Arus gradien, arus yang
timbul akibat ketidakseimbangan bidang isobar
·
Arus geostropik, arus
yang bergerak searah dengan garis isobar dan selalu bergerak tegak lurus
terhadap gaya koriolis dan searah putaran jarum jam dibelahan bumi Utara.
·
Arus antitropik, arus
yang terdapat di perairan dangkal atau perairan sempit, dimana pengaruh arus koriolis
ditiadakan.
Arus Elmen
Arus laut jenis ini timbul akibat gaya koriolis, dimana arus
permukaan akan membentuk sudut 45 derajad terhadap arah angin. Arus akan
mengecil ke lapisan air bagian bawah dan arahnya dibelokkan oleh gaya koriolis
ke kanan di belahan bumi utara.
Arus Thermoholin
Arus ini timbul akibat gradien suhu oleh variasi iklim di
perairan. Perbedaan suhu permukaan dengan suhu bagian dalam air akan
menimbulkan arus dingin dan arus panas.
Upwelling
Upwelling merupakan pergerakan air secara vertikal
yang naik keatas, dapat juga disebut gerakan air divergen. Hal ini timbul
biasanya pada daerah pantai yang relatif terjal.
Down-welling (Sinkling)
Down-welling (sinkling) terbentuk pada saat air bergerak turun
karena proses konvergen atau adanya gradien thermohalin dan salinitas.
Perbedaan densitas air laut dapat pula terbentuk bila arus permukaan tertumbuk
di pantai yang curam kemudian air bergerak ke bawah.
Arus Pantai
Arus pantai timbul karena adanya pergerakkan massa air di
sepanjang perairan pantai seperti gerakan gelombang, pasang surut, arus sungai
dan pengaruh arus laut atau arus musim yang keadaanya sudah terpecah-pecah.
Arus laut yang tiba diperairan pantai akan bergerak dan terpisah-pisah sebagian
bergerak searah garis pantai yang disebut long-shore current dan
sebagian akan dipantulkan kembali kearah laut yang disebut rip current.
B. Oseanografi Kimia
Dalam dunia perikanan dan kelautan
parameter kualitas air mempunyai peranan yang sangat penting. Hal ini
dikarenakan nilai kualitas aiar dapat menunjukkan apakah air tersebut layak
atau tidak untuk budidaya perikanan. Selain itu, parameter kualitas air juga
mampu mendeteksi tingkat kesuburan perairan. Parameter kimia adalah
parameter yang sangat penting untuk menentukan air tersebut dikatakan baik.
Parameter kimia meliputi DO, pH, amoniak, nitrat, nitrit, TAN, TOM, fospor,
BOD, COD, alkalinitas, kesadahan, CO2 dan lain-lain. Parameter kimia meliputi :
1. Suhu
Suhu di lautan mempunyai peran yang
penting bagi kehidupan organisme, karena dapat mempengaruhi baik aktivitas
metabolisme maupun perkembangbiakan dari organisme-organisme. Suhu yang berada
didekat pantai biasanya sedikit lebih tinggi dari pada lepas pantai. Laut
tropik memiliki massa air permukaan hangat yang disebabkan oleh adanya
pemanasan yang terjadi secara terus-menerus sepanjang tahun. Temperatur di
pengaruhi oleh radiasi matahari, posisi matahari, letak geografis, kondisi awan
dan interaksi antara air dan udara (proses penguapan, hantaran radiasi panas,
presipitasi dan hembusan angin). Presipitasi dapat menurunkan suhu permukaan
laut sedangkan evaporasi dapat meningkatkan suhu permukaan.
Pada suatu perairan yang distribusi
temperaturnya secara vertikal akan menurunkan eksponensial ke bawah. Lapisan
homogen di perairan cenderung disebabkan oleh angin ynag bertiup sehingga
menimbulkan gerakan turbulen pada lapisan atas. Umumnya lapisan ini ditemukan pada
kedalaman 50-200 m. Pada kedalaman dibawah lapisan homogen, terjadi penurunan
temperatur yang drastis dengan bertambahnya kedalaman, dimana daerah ini
disebut daerah termoklin. Lapisan di bawah termoklin memiliki kondisi yang
hampir homogen dimana suhu berkurang secara perlahan-lahan ke arah dasar
perairan. Pengukuran suhu permukaan biasanya digunakan termometer air raksa.
Sedangkan untuk pengukuran temperatur pada kedalaman tertentu dapat menggunakan
bathythermograph atau CTD.
2. Salinitas
Air laut mengandung 3,5% garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan
organik dan partikel-partikel tak terlarut. Keberadaan garam-garaman
mempengaruhi sifat fisis air laut (seperti: densitas, kompresibilitas, titik
beku, dan temperatur dimana densitas menjadi maksimum) beberapa tingkat, tetapi
tidak menentukannya.Beberapa sifat (viskositas, daya serap cahaya) tidak
terpengaruh secara signifikan oleh salinitas. Dua sifat yang sangat ditentukan
oleh jumlah garam di laut (salinitas) adalah daya hantar listrik
(konduktivitas) dan tekanan osmosis.
Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%),
natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan
sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak,
strontium dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di laut adalah pelapukan
batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal
(hydrothermal vents) di laut dalam.
Secara ideal, salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam
gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah untuk mengukur
salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan
meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida
ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram ion klorida pada satu
kilogram air laut jika semua halogen digantikan oleh klorida. Penetapan ini
mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan kandungan klorida.
Salinitas ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah total dalam gram
bahan-bahan terlarut dalam satu kilogram air laut jika semua karbonat dirubah
menjadi oksida, semua bromida dan yodium dirubah menjadi klorida dan semua
bahan-bahan organik dioksidasi. Selanjutnya hubungan antara salinitas dan
klorida ditentukan melalui suatu rangkaian pengukuran dasar laboratorium
berdasarkan pada sampel air laut di seluruh dunia dan dinyatakan sebagai: S
(o/oo) = 0.03 +1.805 Cl (o/oo) (1902); Lambang o/oo (dibaca per mil) adalah
bagian per seribu. Kandungan garam 3,5% sebanding dengan 35o/oo atau 35 gram
garam di dalam satu kilogram air laut.
Persamaan tahun 1902 di atas akan memberikan harga salinitas sebesar
0,03o/oo jika klorinitas sama dengan nol dan hal ini sangat menarik perhatian
dan menunjukkan adanya masalah dalam sampel air yang digunakan untuk pengukuran
laboratorium. Oleh karena itu, pada tahun 1969 UNESCO memutuskan untuk
mengulang kembali penentuan dasar hubungan antara klorinitas dan salinitas dan
memperkenalkan definisi baru yang dikenal sebagai salinitas absolut dengan
rumus: S (o/oo) = 1.80655 Cl (o/oo) (1969).
Namun demikian, dari hasil pengulangan definisi ini ternyata didapatkan
hasil yang sama dengan definisi sebelumnya. Definisi salinitas ditinjau kembali
ketika tekhnik untuk menentukan salinitas dari pengukuran konduktivitas,
temperatur dan tekanan dikembangkan. Sejak tahun 1978, didefinisikan suatu
satuan baru yaitu Practical Salinity Scale (Skala Salinitas Praktis) dengan
simbol S, sebagai rasio dari konduktivitas.
Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis
hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara tetap
(monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis, yaitu
daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o - 40oLS), salinitas di permukaan lebih
besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di kedalaman
sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah
secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas
di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi
(curah hujan).
3. Sebaran Oksigen Terlarut
Menurut (Brotowidjoyo,1999) kandungan
oksigen air laut dalam kondisi normal tidak mengganggu ikan,sebab kandungan
oksigen itu secara relative bervariasi dalam batas-batas yang sangat
sempit.Hanya di lapisan-lapisan oksigen monomum di bawah termokllin tropis dan
dalam rongga-rongga di laut Baltik yang yang kandungan oksigennya rendah
kehidupan ikan terganggu.Pernafasan ikan dalam air itu adalah pengambilan O2
dari air dan pelepasan CO2 kedalam air.Pertukaran gas (O2 dan CO2) itu
berlangsung dalam insang dan pada beberapa spesies ikan pernafasan berlangsung
melalui kulit.
Menurut (Hutabarat,1985) di lapisan
permukaan laut kosentrasi gas oksigen sangat bervariasi dan sangat dipengaruhi
oleh suhu,semakin tinggi suhu maka semakin berkurang tingkat kelarutan oksigen
.Di laut,oksigen terlarut (DO) berasal dari dua sumber yakni dari atmosfer dan
dari hasil fotosintesis fitoplankton dan berjenis tanaman laut.Keberadaan
oksigen terlarut ini,memungkinkan untuk langsung dimanfaatkan kebanyakan
organism untuk kehidupan antara lain pada proses respirasi dimana oksigen
diperlukan untuk pembakaran (metabolosme) bahan organic sehingga terbentuk
energy yang diikuti dengan pembentukan CO2 dan H2O.
Menurut (Zenyfapussy,2010)
DO(dissolved oxygen) menunjukkan kandungan oksigen terlarut dalam air.Banyak
sedikitnya kandungan oksigen dapat dipakai untuk menunjukkan banyak sedikitnya
air.Angka DO yang kecil menunjukkan bahwa banyak pengotor atau bahan organic
dalam air.Oksigen terlarut diperlukan oleh hampir semua bentuk kehidupan
akuatik untuk proses pembakaran dalam tubuh.Oksigen terlarut juga sangat
penting dalam mendeteksi adanya pencemaran lingkungan perairan.Karena oksigen
dapat digunakan untuk melihat perubahan biota dalam perairan .Adapun kelarutan
oksigen dalam air dipengaruhi oleh suhu,tekanan partikel gas yang ada di udara
dan di air.Semakin tinggi suhu,salinitas dan tekanan gas yang terlarut dalam
air maka kandungan oksigen makin berkurang .Kandungan oksigen terlarutideal
bagi biota di perairan adalah mencapai antara 4,0-10,5 mg/l pada lapisan permukaan
dan 4,3-10,5 mg/l pada kedalaman 10 meter.
4. Sebaran Derajat Keasaman
Menurut (Brotowidjoyo,1999) biasanya
ph air laut itu 7,6-8,3 dan terutama mengandung ion HCO3-.Air lautan juga
mengandung asam-asam lemah seperti asam karbon (H2CO3) dan asam boric (H3BO3)
damn karena asam-asam itu berdissosiasi maka terjadilah kondisi bahwa air
lautan itu sebagai buffer yang baik sekali yaitu bila kedalam larutan
ditambahkan NaOH ,maka H2CO3 dan H3BO3 akan lebih terdissosiasi dan ph air
lautan konstan sampai H2CO3 dan H3BO3 itu terpakai semua,bila kedalam air
lautan ditambahakan asam keras seoerti H2SO4 maka akan terjadi proses
kebalikannya dan ph tetap konstan yaitu 7,6-8,3.Fakta inilah yang menjamin
berbagai jenis ikan laut dapat hidup.
Berdasarkan ph,perairan dapat
diklasifikasikan menjadi 3 yaitu asam dengan ph 3-6,9,netral antara 7-8,5 dan
basa diatas 8,5.Denagn ph sebesar 8 di perairan)berarti terdapat organism dalam
jumlah banyak karena organism /biota laut menyukai perairan dengan ph tersebut
(Scribd,2009).
C. Biologi
Biologi
laut adalah
cabang ilmu biologi yang mempelajari organisme laut dan interaksi terhadap
lingkungan dan berbagai macam jenis biota laut . Biologi laut mempelajari
hubungan antara laut dengan distribusi dan adaptasi organisme. Salah satunya adalah
adaptasi terhadap kondisi kimiawi dan fisik lautan, ketersediaancahaya
diberbagai kedalaman laut, pergerakan arus, dan komposisi dasarlautan. Subjek
biologi laut lainnya adalah rantai makanan laut, distribusiikan dari segi
ekonomisnya, serta efek polusi dan pencemaran laut. Padaakhir abad ke-19, ilmu
biologi laut memfokuskan pada pendataanorganisme laut. Pada abad ke-20,
teknologi telah memungkinkanperalatan menyelam canggih, kapal selam, camera, dan
tv bawah laut,sehingga mempermudah penelitian.
D. Geologi
Geologi laut atau disebut juga
geologi marine merupakan salah satu cabang ilmu geologi untuk mengetahui
komposisinya, struktur dan proses pembentukan dasar laut. Ilmu ini berguna
untuk pembangunan struktur di bawah laut maupun pelayaran, seperti pembangunan
dermaga, anjungan pemboran minyak, kabel bawah laut, jembatan antar dua pulau
dan sebagainya seperti dilansir pada wikipedia.
Mengenai sedimen di dalam laut,
sedimen-sedimen tersebut terbentuk dari beberapa kepingan atau potongan
material yang terbentuk karena adanya proses fisik dan kimia dari batuan dan
tanah. Nah, partikel tersebut ini sangatlah bervariasi ukurannya, dari
bongkahan sampai lempung atau koloidal, hingga berbentuk bulat sampai tajam.
Sedimentasi atau Pengendapan
Sedimentasi berdasarkan ilmu Geologi
dan Sratigrafi, merupakan beberapa proses yang memiliki peran akan terbentuknya
batuan sedimen (Krumbein dan Sloss, 1971). Proses tersebut akan berlanjut ke
proses sedimentasi yang meilputi pelapukan, perpindahan, deposisi atau
sedimentasi hingga ke lithifikasi atau pembatuan.
Dalam ilmu Geologi Laut atau
Kelautan, kita bisa menggunakan alat yang bernama sieve shaker untuk mengukur
butiran partikel. Sieve shaker ini merupakan ata yang mampu memilah sedimen
berdasarkan ukuran partikelnya. Di alat tersebut terdapat pula saringan atau
ayakan yang acuannya diberikan lubang yang disebut sebagai Mesh.
Nah, mesh atau lubang tersebutlah
yang berfungsi mengukur dalam jumlah lubang satuan panjang. Jika suatu Negara
menggunakan satuan Inggris, maka akan menggunakan satuan inci yang terhitung
dari pusat kawat.
Surbakti tahun 2014 berpendapat
bahwa ukuran partikel merupakan simensi suatu partikel yang dinyatakan dalam
istilah lubang tekecil yang mana partikel tersebut akan melewatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar