ABSTRAK
Sungai
seringkali dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan akhir dari limbah hasil
kegiatan manusia, yang dapat menambah beban pencemaran. Masukan bahan-bahan
dari luar baik yang berguna bagi peningkatan kondisi perairan juga memberi
dampak pada penurunan kualitas perairan bila badan sungai dimasuki oleh
bahan-bahan tersebut dalam konsentrasi yang berlebih. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui kandungan Total Padatan Tersuspensi (TSS), Biochemical
Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD) serta menentukan nilai
Indeks Pencemaran (IP) dari Sungai Klampisan yang terletak di Kawasan Industri
Candi, Ngaliyan, Semarang. Penentuan lokasi pengambilan sampel (data primer)
dengan cara melakukan observasi di sekitar aliran Sungai Klampisan yang
bertujuan untuk mencari lokasi sebagai obyek pengambilan sampel parameter
kualitas air. Pengambilan sampel pada Sungai Klampisan dilakukan pada tiga
stasiun pengamatan. Stasiun pertama berada pada bagian upper stream sungai yang
alirannya terletak sebelum sumber pencemar, stasiun kedua berada pada bagian
mid stream sungai yang alirannya terletak dekat dengan sumber pencemar, stasiun
ketiga berada pada bagian lower stream sungai yang alirannya terletak setelah
sumber tercemar. Pengambilan air sampel dilakukan pada dua titik yang memiliki
jarak yang sama pada lebar penampang sungai di setiap stasiun dengan dua kali
pengulangan. Kandungan TSS paling tinggi terdapat pada bulan Februari 2014 di
stasiun tiga yaitu 45 mg/l sementara kandungan BOD paling tinggi terdapat pada
bulan Februari 2014 di stasiun satu yaitu 20,69 mg/l dan distribusi kandungan
COD paling tinggi terdapat pada bulan Januari 2014 di stasiun satu yaitu 73,5
mg/l. Sungai Klampisan termasuk dalam kriteria tercemar ringan dengan nilai Pij
berkisar antara 1,0 < Pij ≤ 5,0.
Kata Kunci: TSS, BOD, COD, Indeks Pencemaran (IP)
A.
PENDAHULUAN
Secara umum menurut Lazaro (1990) dalam
Anna (1999) sungai seringkali dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan akhir dari
limbah hasil kegiatan manusia, yang dapat menambah beban pencemaran. Oleh
karena itu perlu diketahui seberapa jauh daya tampung sungai terhadap beban
pencemaran. Masukan bahan-bahan dari luar baik yang berguna bagi peningkatan
kondisi perairan juga memberi dampak pada penurunan kualitas perairan bila
badan sungai dimasuki oleh bahan-bahan tersebut dalam konsentrasi yang
berlebih. Selain menurunkan kualitas perairan sungai hal ini akan sangat
berdampak bagi kehidupan organisme yang terdapat di sepanjang aliran sungai
tersebut sebagai akibat adanya masukan limbah secara terus menerus.
Semakin meningkatnya
perkembangan industri baik industri migas, pertanian, maupun industri nonmigas
lainnya, maka semakin meningkat pula tingkat pencemaran pada perairan, udara
dan tanah yang disebabkan oleh hasil buangan industri-industri tersebut. Untuk
mencegah terjadinya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh perkembangan
industri tersebut perlu dilakukan upaya pengendalian pencemaran lingkungan
dengan menetapkan baku mutu lingkungan, termasuk baku mutu air pada sumber air,
baku mutu limbah cair, baku mutu air laut, dan sebagainya (Fardiaz, 1992). Air
dikatakan tercemar apabila air tersebut tidak dapat digunakan sesuai dengan
peruntukannya. Polusi air adalah penyimpangan sifat-sifat air yang keadaan
normal akibat terkontaminasi oleh material atau partikel, dan bukan dari proses
pemurnian. Air sungai dikatakan tercemar apabila badan air tersebut tidak
sesuai lagi dengan peruntukannya dan tidak dapat lagi mendukung kehidupan biota
yang ada didalamnya.
Terjadinya suatu
pencemaran di sungai umumnya disebabkan oleh adanya masukan limbah ke badan
sungai (Azwir, 2006). Mengutip dari Surat Kabar Tribun Jateng tanggal 11 Juli
2013, bahwa puluhan warga Kampung Klampisan RW 08, Purwoyoso, Ngaliyan,
Semarang, melakukan protes terhadap PT. Marimas di Kawasan Industri Candi,
karena limbah marimas diduga mencemari Sungai Klampisan. Hal ini dikarenakan
bau asam yang tercium dari Sungai Klampisan sehingga mencemari sumur sebagai
sumber air bersih warga yang menyebabkan gangguan fungsi dari penggunaan air
bersih tersebut. Berdasarkan isu diatas, maka perlu dilakukan penelitian untuk
mengetahui tingkat pencemaran air Sungai Klampisan dengan mengetahui kandungan
padatan tersuspensi (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen
Demand (COD) di Sungai Klampisan serta menentukan nilai Indeks Pencemar (IP)
nya didukung dengan pemeriksaan parameter fisika dan kimia lainnya. Hingga saat
ini analisa IP pada Sungai Klampisan belum dilakukan, sehingga penelitian ini
diharapkan sebagai penyusunan kebijakan pengelolaan limbah yang tepat bagi
Kawasan Industri Candi yang berada di dekat Sungai Klampisan.
Sungai Klampisan,
Ngaliyan, Semarang, mempunyai potensi tingkat pencemaran yang cukup tinggi
karena terletak di daerah kawasan industri, yaitu Kawasan Industri Candi
Semarang dan limbah yang diduga mencemari perairan sungai ialah limbah yang
berasal dari PT. Marimas (berdasarkan isu dari sebuah surat kabar) yang
termasuk dalam limbah industri pangan. Melihat kondisi tersebut maka perlu
adanya penelitian yang dapat mengetahui kadar padatan tersuspensi (TSS),
Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) serta dapat
menentukan nilai Indeks Pencemar (IP) dari Sungai Klampisan sehingga dapat
dijadikan gambaran kondisi perairan Sungai Klampisan, agar perairan sungai
dapat dimanfaatkan karena berdasarkan informasi yang didapatkan dari masyarakat
sekitar, perairan Sungai Klampisan dimanfaatkan untuk kepentingan warga.
Parameter fisika dan kimia lainnya juga penting untuk dilakukan pemeriksaan
kadarnya, antara lain: suhu air, kecerahan, arus, pH dan DO.
Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui kadar padatan tersuspensi (TSS), Biochemical Oxygen
Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD) serta dapat menentukan nilai
Indeks Pencemar (IP) dari Sungai Klampisan yang terletak di Kawasan Industri
Candi, Ngaliyan, Semarang.
B. MATERI DAN METODE PENELITIAN
1. Materi
Penelitian Materi penelitian yang digunakan berupa beberapa alat dan bahan.
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini dalam pengukuran in situ antara
lain pH paper digunakan untuk mengukur pH; termometer digunakan untuk mengukur
suhu air; secchi disk digunakan untuk mengukur kecerahan dan kedalaman air;
bola arus digunakan untuk mengukur arus, tongkat kayu dan meteran gulung
digunakan untuk mengukur luas penampang sungai dalam pengukuran debit sungai
serta DO meter digunakan untuk mengukur kadar DO.
Sedangkan alat-alat yang
digunakan dalam analisa laboratorium antara lain botol sampel, botol DO, buret
mikro 2 mL, pipet ukur 5 mL, erlenmeyer 125 mL, gelas piala 400 mL, dan labu
ukur 1000 mL, timbangan analitik, magnetic stirrer, desikator, oven, gelas
ukur, cawan alumunium, cawan Gooch, penjepit, kaca arloji dan pompa vacum.
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kertas saring, akuades,
larutan pereaksi asam sulfat, larutan baku kalium dikromat, larutan indikator
ferroin, larutan baku Ferro Ammonium Sulfat (FAS), asam sulfamat, larutan baku
Kalium Hidrogen Ftalat (KHF), larutan buffer fosfat, larutan magnesium sulfat,
larutan kalsium klorida, larutan suspensi bibit mikroba, larutan air pengencer,
larutan glukosa-asam glutamat, larutan asam sulfat, larutan natrium sulfit,
asam asetat, larutan kalium iodida 10%, larutan indikator amilum.
2. Metode
Penelitian Penentuan lokasi pengambilan sampel (data primer) dengan cara
melakukan observasi di sekitar aliran Sungai Klampisan yang bertujuan untuk
mencari lokasi sebagai obyek pengambilan sampel parameter kualitas air.
Pengambilan sampel pada Sungai Klampisan dilakukan pada tiga stasiun pengamatan.
Stasiun pertama berada pada bagian upper stream sungai yang alirannya terletak
sebelum sumber pencemar (kawasan industri). Stasiun kedua berada pada bagian
mid stream sungai yang alirannya terletak dekat dengan sumber pencemar. Stasiun
ketiga berada pada bagian lower stream sungai yang alirannya terletak setelah
sumber tercemar. Pengambilan air sampel dlakukan pada dua titik yang memiliki
jarak yang sama pada lebar penampang sungai di setiap stasiun dengan dua kali
pengulangan. Menurut SNI 03-7016-2004, Hasil pemeriksaan contoh gabungan tempat
menunjukkan keadaan rata-rata dari suatu daerah atau tempat pemeriksaan. Metode
pengambilan contoh gabungan tempat ini umumnya tidak dilakukan untuk
pemeriksaan kualitas air danau atau waduk, sebab pada umumnya kualitas air
danau/waduk menunjukkan gejala yang berbeda kualitasnya karena kedalaman atau
lebarnya.
Pengukuran yang dilakukan
secara in situ antara lain ialah pengukuran DO, suhu, kecerahan, kedalaman,
arus, dan pH air. Selain itu juga dilakukan pengambilan sampel air untuk
kemudian dilakukan analisa di laboratorium yaitu parameter TSS, COD, BOD.
Pengambilan air sampel untuk parameter COD dan BOD menggunakan botol DO yang
dilakukan di bawah permukaan air. Pada saat pengambilan air sampel ini harus
dilakukan secara cermat agar tidak terdapat gelembung udara pada botol DO
tersebut, setelah itu dilakukan analisa sampel dengan metode titrasi. Menurut
Tebbut (1992) dalam Effendi (2003), selama proses inkubasi pada penentuan BOD,
sama sekali tidak ada pasokan oksigen, baik dari proses difusi maupun dari
fotosintesis. Pengambilan air sampel untuk parameter TSS menggunanakan botol
sampel dengan volume 1,5 L yang selanjutnya dilakukan analisa sampel di
laboratorium.
Pengamatan sifat fisik
perairan sungai dilakukan dengan mengamati langsung kondisi perairan sungai.
Sifat fisik perairan sungai yang diamati meliputi warna dan bau air serta
tekstur, jenis dan bau substrat yang berada di perairan sungai tersebut.
Penggunaan lahan
sepanjang sungai Klampisan sangat penting untuk diamati. Hal ini dimaksudkan
untuk dapat menduga faktor yang mempengaruhi kualitas air sungai. Pengamatan
dilakukan langsung di daerah sekitar aliran sungai, apakah lahan sekitar sungai
digunakan untuk lahan pemukiman, pertanian, peternakan, pembuangan sampah, rel
kereta api, atau lain sebagainya disamping penggunaan lahan untuk industri
pabrik. Dengan diketahuinya penggunaan lahan di sepanjang aliran sungai juga
dapat memberikan informasi tentang sumber yang mencemari perairan sungai
tersebut.
Data curah hujan harian
didapatkan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Semarang
dimulai dari tahun 2009 hingga tahun 2013. Data curah hujan diperlukan sebagai
data penunjang kualitas air sungai (parameter fisika dan kimia) yang kemudian
diketahui tingkat pencemarannya.
Air sampel yang telah
diambil selanjutnya dilakukan analisa sampel agar diperoleh hasil untuk
dilakukan analisa data pada setiap parameternya. Analisa sampel padatan
tersuspensi total (Total Suspended Solid) secara gravimetric dilakukan menurut
SNI 06-6989.3-2004. Analisa sampel Biochemical Oxygen Demand (BOD) secara
titrimetric dilakukan menurut SNI 6989.72:2009. Analisa sampel Chemical Oxygen
Demand (COD) secara titrimetric dilakukan menurut SNI 06-2420-1991.
Penentuan
Indeks Pencemaran (IP)
(3)
|
Dimana
m = faktor penyeimbang
Keadaan
kritik digunakan untuk menghitung nilai m
PIj
= 1,0 jika nilai maksimum Ci/Lij = 1,0 dan nilai rata-rata Ci/Lij = 1,0 maka
m
= 1/
, maka persamaan (3) menjadi:
1,0
= m
.........................................................................................(4)
|
Pij
=
|
Harga Pij ini dapat ditentukan dengan cara :
1.
Memilih parameter-parameter yang
jika harga parameter rendah maka kualitas air akan membaik
2.
Memilih kosentrasi parameter baku
mutu yang tidak memiliki rentang
3.
Menghitung
harga Ci/Lij untuk tiap parameter ada setiap stasiun pengambilan sampel
4.
Untuk
nilai kosentrasi parameter DO, yang menurun akan menyatakan tingkat pencemaran
meningkat misal DO. Perlu ditentukan nilai teoritik atau nilai maksimum Cim
(yang merupakan DO jenuh = 7). Kemudian nilai Ci/Lij hasil pengukuran
digantikan oleh nilai Ci/Lij hasil perhitungan, yaitu:
(Ci/Lij)baru = Cim – Ci
Cim – Lij
5.
Jika
nilai baku Lij memiliki rentang - Untuk Ci < Lij rata-rata
(Ci/Lij)baru = Ci – (Lij)rata-rata
(Lij)min – (Lij)rata-rata
- Untuk Ci < L ij rata-rata
(Ci/Lij)baru = Ci – (Lij)rata-rata
(Lij)maks – (Lij)rata-rata
6.
Penggunaan
nilai (Ci/Lij)hasil pengukuran kalau nilai ini kecil dari 1,0 dan penggunaan
nilai (Ci/Lij) baru jika nilai (Ci/Lij) hasil pengukuran lebih besar dari 1,0.
(Ci/Lij) baru = 1,0 + P. Log (Ci/Lij) hasil pengukuran. P adalah konstanta dan
nilainya ditentukan dengan bebas dan disesuaikan dengan hasil pengamatan
lingkungan dan atau persyaratan yang dikehendaki untuk suatu peruntukan
(biasanya digunakan 5)
7.
Menentukan nilai rata-rata dan nilai
maksimum dari keseluruhan Ci/Lij
8.
Menentukan harga Pij
Pij =
Metoda ini dapat langsung
menghubungkan tingkat ketercemaran dengan dapat atau tidaknya sungai dipakai
untuk penggunaan tertentu dan dengan nilai parameter-parameter tertentu.
Standar baku mutu air (BMA) yang digunakan dalam penelitian ini adalah kriteria
peruntukan air kelas II (PP 82/2001). Alasan penggunaan BMA tersebut karena
kajian teknis peruntukan air Sungai Klampisan belum dilakukan. Dalam kondisi
dimana kajian teknis peruntukan sumber air belum dilakukan, maka BMA
menggunakan kriteria peruntukan air kelas II, meskipun sumber air tersebut
digunakan untuk berbagai kebutuhan air baku (Peraturan Pemerintah 82/2001 pasal
5, pasal 9, pasal 11, pasal 12 ayat1).
C.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian terletak pada
aliran Sungai Klampisan yang merupakan wilayah Kampung Klampisan, Desa
Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan yang terletak di sebelah barat Kota Semarang yang
berbatasan dengan kecamatan Semarang Barat, Mijen dan Tugu. Pengambilan sampel
yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu pada stasiun satu terletak pada
koordinat 06o59’49,5’’ LS dan 110o21’29,3 BT yang
merupakan bagian upper stream sungai yang alirannya terletak
sebelum sumber pencemar (kawasan industri). Stasiun dua terletak pada koordinat 07o00’01,0’’
LS dan 110o21’48,3 BT yang merupakan bagian mid stream sungai yang alirannya terletak dekat dengan sumber
pencemar. Stasiun tiga terletak pada koordinat 07o00’08,6’’ LS dan
110o21’49,6’’ BT yang merupakan bagian lower stream sungai yang alirannya terletak setelah sumber
pencemar.
Berdasarkan hasil pengamatan pada
saat pengambilan sampel untuk ulangan pertama yang dilakukan pada bulan Januari
2014, air sungai pada stasiun 1, 2 dan 3 cenderung berwarna jernih dan tidak
berbau. Hal ini dapat disebabkan karena pengambilan sampel dilakukan pada hari
Senin, dimana pabrik disekitar sungai baru mulai beroperasi sehingga buangan
limbah belum teralirkan dan juga dapat dikarenakan turunnya hujan pada saat
pengambilan sampel. Jenis substrat pada perairan sungai ialah lumpur berpasir
yang berwarna abu. Pengambilan sampel pada ulangan kedua dilakukan pada bulan
Februari 2014 di hari Kamis dimana pada hari itu pabrik sudah beroperasi dan
sudah teralirkan limbahnya di sepanjang sungai Klampisan, sehingga terlihat air
sungai cenderung berwarna coklat terutama pada stasiun 2 dan stasiun 3.
Substrat perairan sungai yang semula lumpur berpasir, menjadi disertai tanah.
Hal ini dikarenakan hujan lebat yang turun sepanjang bulan Januari hingga awal
Februari mengakibatkan tanah pondasi sekitar penampang sungai menjadi turun.
Berdasarkan Data curah hujan tahun 2009 – 2013 yang diperoleh dari Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Semarang dapat dikatakan bahwa
curah hujan terrendah terjadi pada bulan Juli – Agustus dimana pada bulan ini
sungai Klampisan diduga tercemar dan puncak curah hujan terjadi pada bulan
Januari – Februari dimana pada bulan ini dilakukan penelitian.
Pengambilan sampel dilakukan pada
tiga stasiun. Stasiun 1 merupakan aliran sungai yang terletak sebelum sumber
pencemar yang dikelilingi dengan banyak pepohonan. Sepanjang aliran sungai pada
stasiun ini terdapat banyak sekali sampah berserakan. Lahan disamping aliran
sungai digunakan untuk pemukiman penduduk, peternakan kambing dan juga terdapat
pabrik baja PT. Kurnia Adijaya Mandiri. Stasiun 2 merupakan aliran sungai yang
terletak persis dibelakang pabrik PT. Marimas yang diduga sebagai sumber
pencemar pada sungai Klampisan. Lahan sepanjang aliran sungai stasiun 2 ini
juga digunakan sebagai tempat pemukiman warga Desa Klampisan. Stasiun 3
merupakan aliran sungai yang terletak setelah sumber pencemar. Lahan sepanjang
sungai stasiun 3 digunakan sebagai tempat pemukiman warga dan juga terdapat
jembatan yang dijadikan akses jalan raya. Beberapa warga setempat ada yang
secara langsung menggunakan aliran air sungai pada stasiun ini untuk
kepentingan rumah tangga seperti mandi dan mencuci.
a.
Kandungan TSS, BOD, dan COD
Berdasarkan gambar,
dapat dilihat bahwa
nilai rataan TSS pada bulan
Februari lebih tinggi dibandingkan dengan nilai TSS pada
bulan Januari di stasiun satu dan stasiun tiga. Nilai TSS stasiun 3 mengalami
kenaikan cukup signifikan pada bulan Januari sebesar 15 mg/l menjadi 45 mg/l
pada bulan Februari. Nilai kandungan TSS pada stasiun dua lebih tinggi pada
bulan Januari sebesar 35 mg/l dibandingkan dengan bulan Februari sebesar 30
mg/l, tetapi perbedaan tersebut tidak terlalu signifikan. Nilai rataan BOD yang
dihasilkan pada bulan Februari cenderung lebih tinggi dibandingkan nilai pada
bulan Januarii. Nilai BOD tertinggi pada bulan Februari ialah pada stasiun 1
sebesar 20,69 mg/l yang memiliki perbedaan yang cukup jauh dibandingkan dengan
nilai pada bulan Januari yaitu sebesar 5,5 mg/l. Nilai rataan COD yang dihasilkan
pada bulan Januari selalu lebih tinggi dibandingkan nilai pada bulan Februari.
Nilai COD tertinggi pada bulan Januari ialah pada stasiun 1 sebesar 73,5 mg/l
yang memiliki perbedaan yang cukup jauh dibandingkan dengan nilai pada bulan
Februari yaitu sebesar 32,49 mg/l. Nilai COD paling rendah ialah pada stasiun 3
dimana pada bulan Januari sebesar 23 mg/l dan Februari sebesar 9,2 mg/l.

Gambar 1. Histogram
Kandungan TSS, BOD, dan COD
Gambar-gambar
dibawah ini menunjukkan pola distribusi TSS, BOD, dan COD pada ulangan pertama
yang dilakukan di bulan Januari dan pada ulangan kedua yang dilakukan di bulan
Februari. Pola distribusi TSS pada ulangan pertama yang dilakukan di bulan
Januari menunjukkan bahwa distribusi TSS paling tinggi terdapat pada stasiun
dua yang ditandai dengan warna kemerahan dan distribusi TSS paling rendah
terdapat pada stasiun satu yang ditandai dengan warna biru tua. Pola distribusi
TSS pada ulangan kedua yang dilakukan di bulan Februari menunjukkan bahwa
distribusi TSS paling tinggi terdapat pada stasiun tiga yang ditandai dengan
warna kuning kemerahan dan distribusi TSS paling rendah terdapat pada stasiun
satu yang ditandai dengan warna biru tua. Pola distribusi BOD pada ulangan
pertama yang dilakukan di bulan Januari menunjukkan bahwa distribusi BOD paling
tinggi terdapat pada stasiun dua yang ditandai dengan warna kuning kemerahan
dan distribusi BOD paling rendah terdapat pada stasiun satu yang ditandai
dengan warna biru tua. Pola distribusi BOD pada ulangan kedua yang dilakukan di
bulan Februari menunjukkan bahwa distribusi BOD paling tinggi terdapat pada
stasiun satu yang ditandai dengan warna kuning kemerahan dan distribusi BOD
paling rendah terdapat pada stasiun tiga yang ditandai dengan warna biru tua.
Pola distribusi COD pada ulangan pertama yang dilakukan di bulan Januari
menunjukkan bahwa distribusi COD paling tinggi terdapat pada stasiun satu yang
ditandai dengan warna kuning kemerahan dan pada stasiun dua dan tiga distribusi
COD lebih rendah ditandai dengan warna biru tua. Pola distribusi COD pada
ulangan kedua yang dilakukan di bulan Februari menunjukkan bahwa distribusi COD
paling tinggi terdapat pada stasiun satu yang ditandai dengan warna kuning
kemerahan dan distribusi COD paling rendah terdapat pada stasiun tiga yang
ditandai dengan warna biru tua.

Gambar 2. Distribusi
TSS, BOD, dan COD (Januari dan Februari)
b.
Parameter Pendukung
Parameter pendukung yang diukur
dalam penelitian ini terdiri dari parameter fisika dan kimia diantaranya suhu,
kecerahan, kedalaman, arus, pH air, dan DO. Kisaran suhu air yang diperoleh
pada bulan Januari pada setiap stasiun adalah 25–26 °C sementara pada bulan
Februari adalah 24 – 25 °C. Suhu air pada bulan Januari dan Februari pada
setiap stasiun cenderung tidak terjadi perubahan secara signifikan. Pengukuran
kecerahan air menggunakan piringan secchi
disk menghasilkan nilai kecerahan yang tak terhingga. Hal ini dikarenakan
warna air yang relatif jernih dan perairan yang dangkal sehingga warna piringan
secchi disk masih dapat terlihat
hingga di dasar perairan. Perairan sungai pada stasiun 1 memiliki kedalaman
yang lebih dibandingkan dengan stasiun 2 dan 3 yaitu berkisar antara 0,37 –
0,40 m. Kedalaman perairan sungai pada bulan Januari dan Februari tidak
mengalami perubahan yang signifikan. Kecepatan arus sungai pada stasiun 1, 2,
dan 3. Pada bulan Januari, stasiun 3 memiliki kecepatan arus yang lebih cepat
dibandingkan stasiun lainnya yaitu sebesar 0,125 m/s, sementara pada bulan
Februari, laju kecepatan arus air yang paling cepat ialah pada stasiun 2 yaitu
sebesar 0,2 m/s. Tidak terlihat perubahan laju air yang signifikan antara bulan
Januari dengan Februari. Nilai derajat keasaman (pH). pH air pada bulan Januari
di Stasiun 1 dan 3 memiliki pH air netral yaitu 7, sedangkan nilai pH air pada
stasiun 2 ialah 6 yaitu asam. Bulan Februari pada setiap stasiun menghasilkan
nilai pH air yang sama yaitu 6 yang artinya perairan bersifat asam. Oksigen
Terlarut (DO) pada bulan Januari memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan
pada bulan Februari. Stasiun 2 memiliki nilai DO tertinggi pada bulan Januari
yaitu sebesar 8,05 mg/l, sementara nilai DO tertinggi pada bulan Februari ialah
sebesar 8,8 mg/l pada stasiun 3.
Tabel
1. Hasil Pengukuran Parameter Fisika dan Kimia
Pengamatan
|
Stasiun1
|
Stasiun 2
|
Stasiun 3
|
||||
Jan
|
Feb
|
Jan
|
Feb
|
Jan
|
Feb
|
||
Suhu Air (oC)
|
25
|
24
|
25
|
25
|
26
|
25
|
|
Kecerahan (m)
|
~
|
~
|
~
|
~
|
~
|
~
|
|
Kedalaman (m)
|
0,37
|
0,4
|
0,33
|
0,35
|
0,28
|
0,35
|
|
Arus (m/s)
|
0,08
|
0,10
|
0,10
|
0,20
|
0,13
|
0,16
|
|
pH
|
7
|
6
|
6
|
6
|
7
|
6
|
|
Oksigen
Terlarut (mg/l)
|
8,15
|
7,75
|
8,4
|
8,05
|
8,8
|
7,8
|
c.
Indeks Pencemaran (IP)
Tingkat pencemaran sungai dapat
diketahui dengan menggunakan Metode Indeks Pencemaran. Dalam metode ini
tiap-tiap parameter yang terukur akan berkontribusi terhadap nilai Indeks
Pencemaran (Pij). Lij
menyatakan konsentrasi parameter
kualitas air yang dicantumkan dalam Baku Mutu Air, dan Ci menyatakan
konsentrasi parameter kualitas air. Standar baku mutu air (BMA) yang digunakan
dalam penelitian ini adalah kriteria peruntukan air kelas II (PP 82/2001).
Alasan penggunaan BMA tersebut karena kajian teknis peruntukan air Sungai
Klampisan belum dilakukan.
Tabel 2.
Nilai Indeks Pencemaran Stasiun 1 (Januari 2014)
Parameter
|
Ci
|
Lij
|
Ci/Lij
|
Ci/Lij baru
|
|||
pH
|
7
|
6
- 9
|
0,33
|
0,33
|
|||
TSS
|
10
|
50
|
0,2
|
0,2
|
|||
COD
|
73,5
|
25
|
2,94
|
3,34
|
|||
BOD
|
5,5
|
3
|
1,83
|
2,3
|
|||
DO
|
8,15
|
4
|
0,095
|
0,0095
|
|||
(Ci/Lij)2R
|
1,51
|
||||||
(Ci/Lij)2M
|
11,15
|
||||||
Pij
|
2,51
|
||||||
Tabel 3.
Nilai Indeks Pencemaran Stasiun 2 (Januari 2014)
|
|||||||
Parameter
|
Ci
|
Lij
|
Ci/Lij
|
Ci/Lij baru
|
|||
pH
|
6
|
6
- 9
|
1
|
1
|
|||
TSS
|
35
|
50
|
0,7
|
0,7
|
|||
COD
|
23
|
25
|
0,92
|
0,92
|
|||
BOD
|
3,71
|
3
|
1,24
|
1,46
|
|||
DO
|
8,4
|
4
|
0,12
|
0,12
|
|||
(Ci/Lij)2R
|
0,7
|
||||||
(Ci/Lij)2M
|
2,13
|
||||||
Pij
|
1,19
|
||||||
Tabel 4.
Nilai Indeks Pencemaran Stasiun 3 (Januari 2014)
|
|||||||
Parameter
|
Ci
|
Lij
|
Ci/Lij
|
Ci/Lij baru
|
|||
pH
|
7
|
6 – 9
|
0,33
|
0,33
|
|||
TSS
|
15
|
50
|
0,3
|
0,3
|
|||
COD
|
23
|
25
|
0,92
|
0,92
|
|||
BOD
|
6,87
|
3
|
2,29
|
2,8
|
|||
DO
|
8,8
|
4
|
0,45
|
0,45
|
|||
(Ci/Lij)2R
|
0,92
|
||||||
(Ci/Lij)2M
|
7,84
|
||||||
Pij
|
2,09
|
||||||
Tabel 5.
Nilai Indeks Pencemaran Stasiun 1 (Februari 2014)
|
|||||||
Parameter
|
Ci
|
Lij
|
Ci/Lij
|
Ci/Lij baru
|
|||
pH
|
6
|
6 - 9
|
1
|
1
|
|||
TSS
|
25
|
50
|
0,5
|
0,5
|
|||
COD
|
32,49
|
25
|
1,30
|
1,57
|
|||
BOD
|
20,69
|
3
|
6,90
|
5,19
|
|||
DO
|
7,75
|
4
|
0,06
|
0,06
|
|||
(Ci/Lij)2R
|
2,77
|
||||||
(Ci/Lij)2M
|
26,94
|
||||||
Pij
|
3,85
|
||||||
Tabel 6.
Nilai Indeks Pencemaran Stasiun 2 (Februari 2014)
|
|||||||
Parameter
|
Ci
|
Lij
|
Ci/Lij
|
Ci/Lij baru
|
|||
pH
|
6
|
6
- 9
|
1
|
1
|
|||
TSS
|
30
|
50
|
0,6
|
0,6
|
|||
COD
|
19,40
|
25
|
0,776
|
0,776
|
|||
BOD
|
10,75
|
3
|
3,58
|
3,76
|
|||
DO
|
8,05
|
4
|
0,09
|
0,09
|
|||
(Ci/Lij)2R
|
1,55
|
||||||
(Ci/Lij)2M
|
14,14
|
||||||
Pij
|
2,80
|
||||||
Tabel 7.
Nilai Indeks Pencemaran Stasiun 3 (Februari 2014)
|
||||||||
Parameter
|
Ci
|
Lij
|
Ci/Lij
|
Ci/Lij baru
|
||||
pH
|
6
|
6
- 9
|
1
|
1
|
||||
TSS
|
45
|
50
|
0,9
|
0,9
|
||||
COD
|
9,20
|
25
|
0,368
|
0,368
|
||||
BOD
|
6,40
|
3
|
2,13
|
2,64
|
||||
DO
|
7,8
|
4
|
0,07
|
0,07
|
||||
(Ci/Lij)2R
|
0,99
|
|||||||
(Ci/Lij)2M
|
6,97
|
|||||||
Pij
|
1,99
|
|||||||
2.
Pembahasan
a. Parameter Utama
Hasil pengukuran (Ci) dari parameter
utama yaitu TSS, BOD, dan COD yang sangat berperan sebagai penentuan tingkat
pencemaran didalam penggunaan Indeks Pencemaran (Pij) yang dibandingkan dengan
batas Baku Mutu Air (Lij). Dapat dilihat dalam gambar dibawah ini, menjelaskan
perbandingan Ci dan Lij pada setiap parameternya.

Gambar 3. Histogram Perbandingan Ci
dan Lij parameter TSS, BOD, dan COD
Nilai total padatan tersuspensi
(TSS) di Sungai Klampisan di setiap stasiun pada bulan Januari dan Februari
menghasilkan angka yang lebih rendah dibandingkan dengan BMA Kelas II Menurut
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 tahun 2001 yang memiliki nilai
maksimum 50 mg/l. Kandungan TSS paling tinggi terdapat di stasiun tiga pada
bulan Februari yaitu 45 mg/l. Hal ini dikarenakan pengambilan sampel pada bulan
Februari dilakukan setelah hujan turun sehingga substrat dasar perairan yang
teraduk mengakibatkan tingkat padatan tersuspensi di badan air semakin tinggi.
Stasiun tiga menghasilkan kandungan TSS yang paling tinggi dikarenakan pada
saat pengambilan sampel di stasiun ini sedang terjadi aktivitas warga
menggunakan air sungai seperti mencuci. Semakin rendah nilai TSS maka akan
semakin tinggi nilai oksigen terlarut dan kecerahan. Menurut Gazali et al. (2013), zat padat tersuspensi
adalah zat padat yang terapung yang dapat menimbulkan minimnya oksigen dalam
air. Kandungan TSS memiliki hubungan yang erat dengan kecerahan perairan.
Keberadaan padatan tersuspensi tersebut akan menghalangi penetrasi cahaya yang
masuk ke dalam perairan sehingga hubungan antara TSS dan kecerahan akan
menunjukkan hubungan yang berbanding terbalik. Perairan Sungai Klampisan memiliki
kecerahan air yang tidak terhingga demikian hal ini berbanding terbalik dengan
nilai TSS yang diperoleh dengan kadar yang sangat rendah. Hasil pengukuran
kandungan Biochemichal Oxygen Demand
(BOD) atau kebutuhan oksigen biokimiawi di Sungai Klampisan pada setiap
stasiunnya pada bulan Januari dan Februari memiliki hasil diatas Baku Mutu Air
(BMA) kelas II berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2001 yaitu angka
batas maksimum disyaratkan 3 mg/l. Kisaran BOD pada bulan Januari ialah 3,7 –
6,87 mg/l sedangkan pada bulan Februari ialah 6,4 – 20,69 mg/l. Nilai kisaran
BOD pada bulan Januari lebih rendah dibandingkan pada bulan Februari. Hal ini
dikarenakan pada saat pengambilan sampel di bulan Februari pabrik di kawasan
industri candi tepatnya pabrik baja yang terdapat di dekat stasiun satu sedang
beroperasi. Hal ini pula yang menyebabkan kandungan BOD tertinggi terdapat pada
stasiun satu. Dijelaskan oleh Sugiharto (1987) dalam Gazali et al.
(2013), semakin besar nilai BOD menunjukkan bahwa derajat pengotoran air limbah
semakin besar. Nilai BOD menunjukan banyaknya pencemar organik yang ada didalam
periaran sungai. Hasil pengujian sampel air kadar Chemichal Oxygen Demand (COD) di sepanjang aliran sungai Klampisan
berkisar antara 9,2 – 73,5 mg/l. Kadar COD tertinggi dan juga melebihi ambang
batas BMA ialah terdapat di stasiun satu yaitu 73,5 mg/l pada bulan Januari dan
32,49 mg/l pada bulan Februari dengan batas maksimum BMA Kelas II yaitu 25
mg/l. Hal ini dapat disebabkan karena terdapat pabrik baja disektiar stasiun
ini dan banyak sampah yang berserakan yang menyebabkan kandungan bahan kimiawi
yang tinggi pada stasiun ini. Sementara kadar COD terendah terdapat pada
stasiun tiga pada pengambilan sampel kedua yaitu pada bulan
Februari. Hal ini disebabkan karena
di sekitar stasiun tiga tidak terdapat pabrik apapun, hanya terdapat pemukiman
warga sehingga menunjukkan sedikitnya pencemar organik yang terdapat pada
perairan di stasiun tiga ini.
b.
Parameter Pendukung
Hasil pengukuran
(Ci) dari parameter
pendukung yaitu pH
dan DO yang
juga berperan sebagai
penentuan tingkat pencemaran didalam
penggunaan Indeks Pencemaran (Pij) yang dibandingkan dengan batas Baku Mutu Air
(Lij). Dapat dilihat dalam gambar dibawah ini yang menjelaskan perbandingan Ci dan
Lij pada setiap parameternya.

Gambar 4. Histogram Perbandingan Ci dan Lij parameter pH dan
DO
Hasil pengukuran pH air pada bulan
Januari dan Februari yaitu berkisar antara 6 – 7. Menurut Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia No. 82 tahun 2001 angka pH yang didapat selama penelitian
berada pada kondisi optimum, yaitu 6-9. pH mempengaruhi toksisitas suatu
senyawa kimia. Keasaman air (pH) juga mempengaruhi tingkat kesuburan perairan
karena mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam kurang produktif,
malah dapat membunuh ikan (Gufron dan Kordi, 1997). pH air sungai berkisar 4 -
9. Kisaran pH yang cocok untuk organisme akuatik tidak sama tergantung pada
jenis organisme tersebut (Cech 2005 dalam
Siahaan et al. 2012). Perubahan pH
menjadi hal yang peka bagi sebagian besar biota akuatik. Organisme akuatik
lebih menyukai pH mendekati pH netral (Novotny & Olem 1994 dalam Siahaan et al. 2012). Hasil pengukuran kandungan oksigen terlarut (DO) di
Sungai Klampisan pada setiap stasiunnya pada bulan Januari dan Februari
memiliki hasil diatas Baku Mutu Air (BMA) kelas II berdasarkan Peraturan
Pemerintah nomor 82 tahun 2001 yaitu yang disyaratkan ≥ 4 mg/l. Menurut Lee et al (1978) dalam Ardi (2002), kondisi perairan Sungai Klampisan dilihat dari
kadar oksigen terlarutnya termasuk dalam kategori tidak tercemar dimana
klasifikasi perairan menurut oksigen terlarut adalah sebagai berikut : tidak
tercemar (≥ 6.5 mg/l), tercemar sedang (4,5 - 6,5 mg/l) dan tercemar berat
(< 2.0 mg/l). Hal ini dapat dikarenakan penelitian dilakukan pada pagi hari
dimana pagi hari terjadinya proses fotosintesis sehingga menyebabkan adanya
penambahan oksigen melalui proses fotosintetis dan pertukaran gas antara air
dan udara menyebabkan kadar oksigen terlarut relatif lebih tinggi pada pagi dan
atau siang hari serta musim penghujan selama penelitian berlangsung yaitu pada
bulan Januari dan Februari, sehingga air hujan yang masuk dapat mensuplai
oksigen terlarut didalam perairan sungai Klampisan.
c.
Tingkat Pencemaran Sungai Klampisan
Hasil perhitungan indeks pencemaran
(Pij) menunjukkan bahwa Sungai Klampisan masih termasuk
dalam kriteria tercemar ringan
(dapat dilihat pada tabel 9). Hal tersebut mungkin saja terjadi mengingat
sungai mempunyai kemampuan memulihkan dirinya sendiri (self purification) dari bahan pencemar. Kemampuan self purification sungai terjadi karena
penambahan konsentrasi oksigen terlarut dalam air yang berasal dari udara dan
air hujan. Kandungan oksigen di dalam air akan menerima tambahan akibat
turbulensi sehingga berlangsung perpindahan (difusi) oksigen dari udara ke air
yang disebut proses reaerasi
(KepMenLH 110/2003).
Tabel 8.
Kriteria Tingkat Pencemaran Sungai Klampisan
Bulan
|
Stasiun
|
(Pij)pengukuran
|
Keterangan
|
|
1
|
2,51
|
Cemaran Ringan (1,0 < Pij ≤
|
5,0)
|
|
Januari 2014
|
2
|
1,19
|
Cemaran Ringan (1,0 < Pij ≤
|
5,0)
|
3
|
2,09
|
Cemaran Ringan (1,0 < Pij ≤
|
5,0)
|
|
1
|
3,85
|
Cemaran Ringan (1,0 < Pij ≤
|
5,0)
|
|
Februari 2014
|
2
|
2,80
|
Cemaran Ringan (1,0 < Pij ≤
|
5,0)
|
3
|
1,99
|
Cemaran Ringan (1,0 < Pij ≤
|
5,0)
|
Nilai indeks pencemar paling tinggi
terdapat pada stasiun satu dimana penggunaan lahan disekitar stasiun tersebut
sebagai pemukiman warga, peternakan kambing serta terdapat pabrik baja
disekitar aliran stasiun satu. Sementara nilai indeks pencemaran pada stasiun 2
dimana terletak pada area sumber pencemar yaitu PT. Marimas yang diduga oleh
warga sebagai sumber utama yang mencemari aliran justru tidak begitu tinggi.
Beban pencemaran bahan organik pada
sungai Klampisan ialah tinggi ditandai dengan tingginya beban pencemaran
parameter BOD dan COD. Sungai Klampisan terletak di kawasan industri dan juga
lahan sepanjang aliran Sungai Klampisan digunakan untuk pemukiman warga yang
dapat menyebabkan tingginya bahan organik pada sungai ini. Menurut
Agustiningsih (2012), kegiatan industri juga memberikan masukan beban
pencemaran organik ke dalam sungai tetapi nilainya masih lebih kecil bila
dibandingkan dari permukiman dan pertanian.
D.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari
penelitian ini ialah distribusi kandungan TSS paling tinggi terdapat pada
bulan Februari di stasiun tiga yaitu
45 mg/l sementara distribusi kandungan BOD paling tinggi terdapat pada bulan
Februari di stasiun satu yaitu 20,69 mg/l dan distribusi kandungan COD paling
tinggi terdapat pada bulan Januari di stasiun satu yaitu 73,5 mg/l dan Sungai
Klampisan termasuk dalam kriteria tercemar ringan dengan nilai Pij berkisar
antara 1,0 < Pij ≤ 5,0.
Ucapan
Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih
kepada Dr. Ir. Haeruddin, M.Si, Dr. Ir. Agung Suryanto, M.S, Ir. Siti
Rudiyanti, M.Si, Dr. Ir. Pujiono W.P., M.S, dan Dr. Ir. Frida Purwanti, M.Sc
selaku tim penguji serta Dr. Ir. Suryanti, M.Pi selaku panitia yang telah
memberikan arahan, bimbingan, serta kritik dan saran dalam penyusunan jurnal
ini. Serta semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan.
DAFTAR PUSTAKA
Agustira, R. 2013. Kajian
Karakteristik Kimia Air, Fisika Air dan Debit Sungai pada Kawasan DAS Padang
Akibat Pembuangan Limbah Tapioka. Jurnal Online Agroekoteknologi 1 (3) : 615 -
625, Juni 2013.
Anna, S. 1999. Analisis Beban
Pencemaran dan Kapasitas Asimilasi Teluk Jakarta. Bogor: Program Pasca Sarjana
IPB Bogor (Tesis).
Ardi. 2002. Pemanfaatan
Makrozoobentos Sebagai Indikator Kualitas Perairan Pesisir. Bogor: Program
Pasca Sarjana IPB Bogor (Tesis).
Asdak, C. 2004. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai. Gadjah Mada University Press. Bandung. Azwir. 2006. Analisa Pencemaran
Air Sungai Tapung Kiri oleh Limbah Industri Kelapa Sawit PT. Peputra
Masterindo
di Kabupaten Kampar. Semarang: Program Magister Ilmu Lingkungan Program Pasca
Sarjana Universitas Diponegoro Semarang (Tesis).
Dahuri, R. 2004. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan
Lautan Secara Terpadu. Pradnya Paramita.
Jakarta.
Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran. UI-Press.
Jakarta.
Effendi, H. 2000. Telaah Kualitas
Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan IPB. Bogor.
________. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber
Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius.
Yogyakarta.
Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Kanisius.
Yogyakarta.
Gazali, Widiatmono, Rahadi, dan R,
Wirosoedarmo. 2013. Evaluasi Dampak Pembuangan Limbah Cair Pabrik Kertas
Terhadap Kualitas Air Sungai Klinter Kabupaten Nganjuk.Jurnal Keteknikan
Pertanian Tropis dan Biosistem 1 (2) : 1-8, Juni 2013.
Hadi, S. 1982. Metodologi Research. Jilid II. Fakultas
Psikologi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Hadi, S. dan M. Helmi. 2004. Development of Digital Multilayer
EcologicalModel for Padang Coastal Water (West Sumatera). Journal of Coastal Development. 7(3) : 129-136.
Hutabarat, S dan Evans, S.M. 1986. Kunci Identifikasi
Zooplankton Daerah Tropik. UI-Press. Jakarta.
Media Cetak. Tribun Jateng. 2013. Protes Limbah, Warga Klampisan Pakai Masker.
http://jateng.tribunnews.com/2013/07/11/.
Dikunjungi tanggal 22 Oktober 2013.
Menteri Negara Lingkungan Hidup.
2003. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 Tentang
Pedoman Penentuan Status Mutu Air.
Perdani, V. 2001. Evaluasi Kualitas
Air dan Komunitas Makrozoobenthos pada Sungai Cileungsi-Bekasi di Kabupaten
Bogor. Program Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. IPB. Bogor (Skripsi).
Presiden Republik Indonesia. 2001.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Rahayu, B. S. L. J. W. P. 1993. Penanganan Limbah Industri
Pangan. Kanisius. Yogyakarta.
Rahmawati, A. A. 2005. Perbedaan
Kadar BOD, COD, TSS, dan MPN Coliform pada Air Limbah, Sebelum dan Sesudah
Pengolahan di RSUD Nganjuk. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 2 (1) : 97 – 110, Juli
2005.
Salmin. 2005. Oksigen Terlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen
Biologi (BOD) Sebagai Salah Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas Perairan.
Oseana, XXX(3) : 21 – 26.
Siahaan, R. 2011. Kualitas Air Sungai Cisadane Jawa Barat
Banten. Jurnal Ilmiah Sains 11 (2) : 268 - 273, Oktober 2011.
Soemarwoto, O. 1997. Ekologi Lingkungan Hidup dan
Pembangunan. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar